DailyFX.ID — Indeks-indeks saham Wall Street kembali melemah pada perdagangan Selasa, melanjutkan tren pelemahan selama dua hari beruntun. Kenaikan tajam harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) yang menembus 5% memberikan tekanan signifikan terhadap pasar saham. Investor juga bersiap menghadapi keputusan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
Mengutip laporan CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 328,09 poin atau 0,63% ke level 52.093,11. Indeks S&P 500 melemah 0,45% menjadi 7.585,73, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,78% ke posisi 25.981,57.
Tekanan terhadap saham-saham AS utamanya berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan lonjakan harga minyak. Pada perdagangan Selasa, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,041%, level tertinggi yang dicapai sejak 2007. Meskipun turun dari puncaknya, imbal hasil tersebut masih tercatat naik lebih dari 3 basis poin ke level 5%.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi perhatian utama investor karena berpotensi menekan valuasi saham. Obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi membuat aset berisiko seperti saham menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Dalam catatan strategis Barclays, disebutkan bahwa kenaikan suku bunga telah menekan valuasi dan meningkatkan risiko bagi portofolio saham. “Meski laba perusahaan sejauh ini mampu mengimbangi tekanan tersebut, mendekatnya imbal hasil US Treasury 10 tahun ke ambang 5% menjadi titik penting secara historis. Di atas level tersebut, suku bunga biasanya menjadi hambatan yang lebih persisten bagi saham,” tulis strategis Barclays.
Harga minyak dunia juga turut memperburuk sentimen pasar. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November melonjak hampir 3% menjadi US$ 108,75 per barel pada perdagangan Selasa. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 4% ke US$ 105,83 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Arab Saudi menutup sementara jalur pipa penting yang memungkinkan pengiriman minyak melewati Selat Hormuz. Gangguan pasokan minyak ini, ditambah berlanjutnya ketegangan geopolitik, memicu kekhawatiran akan bertahan tingginya inflasi.
Pasar Semakin Waspada
Melissa Brown, kepala global riset keputusan investasi di SimCorp, menyatakan bahwa investor mulai semakin memperhatikan risiko-risiko tersebut. Menurutnya, kombinasi utang pemerintah AS yang telah melampaui US$ 40 triliun, inflasi yang masih tinggi, serta harga minyak di atas US$ 100 per barel membuat pasar semakin waspada.
Di tengah tekanan ini, investor juga menantikan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada Rabu. Perdagangan kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan probabilitas lebih dari 94% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari kisaran 3,5%-3,75%.
Keputusan suku bunga The Fed ini berpotensi membawa dampak luas terhadap perekonomian global. Investor juga menantikan arahan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai langkah kebijakan selanjutnya.
Brown menambahkan bahwa pasar membutuhkan kejelasan mengenai arah kebijakan moneter. Pernyataan bahwa The Fed tetap mencermati inflasi dan siap bertindak akan memberikan gambaran bagi investor.
Menariknya, di tengah tekanan pasar secara umum, sejumlah saham terkait kecerdasan buatan (AI) justru menunjukkan penguatan setelah tertekan pada perdagangan sebelumnya. Coherent naik hampir 2%, Advanced Micro Devices (AMD) menguat 2%, sedangkan Qualcomm melonjak lebih dari 4%. Kenaikan saham-saham ini membantu meredam pelemahan indeks S&P 500 dan Nasdaq.
Ikuti DailyFX.ID
