— Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/9/2026). Kenaikan harga minyak dunia, yang dipicu oleh gangguan infrastruktur energi Arab Saudi, menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, ekspektasi pasokan sawit yang lebih ketat pada tahun depan juga turut menopang pergerakan harga komoditas ini.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat naik 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.741 ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 mengikutinya dengan kenaikan 34 ringgit Malaysia menjadi 4.884 ringgit Malaysia per ton. Pergerakan positif juga terlihat pada kontrak Desember 2026 yang meningkat 40 ringgit Malaysia menjadi 4.998 ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Januari 2027 yang juga naik 40 ringgit Malaysia menjadi 5.086 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 bertambah 20 ringgit Malaysia menjadi 5.152 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Maret 2027 menguat 5 ringgit Malaysia menjadi 5.201 ringgit Malaysia per ton.

Lonjakan harga CPO sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang melonjak lebih dari 2%. Kenaikan ini terjadi setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi menyebabkan East-West Pipeline tidak beroperasi. Gangguan tersebut memicu kekhawatiran akan kerusakan infrastruktur energi dan jalur transportasi minyak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki.

Anilkumar Bagani, kepala riset Sunvin Group, menjelaskan bahwa penguatan harga energi menjadi salah satu penopang kenaikan CPO. “BMD CPO futures terlihat lebih tinggi hari ini mengikuti kenaikan harga energi,” ujar Bagani. Harga minyak yang lebih tinggi membuat CPO menjadi lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel, mengingat minyak sawit bersaing dengan bahan bakar fosil dalam penggunaan energi terbarukan.

Selain faktor harga minyak, ekspektasi pasokan sawit yang lebih ketat pada tahun depan juga memberikan dukungan signifikan. Bagani menyebutkan penerapan mandat biodiesel B50 di Indonesia dan potensi penurunan produksi akibat fenomena El Niño menjadi faktor penting yang diperhatikan pasar. Ekspektasi ini sejalan dengan proyeksi bahwa kondisi pasokan sawit dapat semakin ketat ketika permintaan biodiesel meningkat, sementara produksi berpotensi tertekan akibat cuaca kering.

Ekspor Malaysia Melambat, Impor India Meningkat

Di sisi lain, pasar CPO juga menghadapi tekanan dari sisi ekspor. Surveyor kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-15 September mengalami penurunan antara 17,8% hingga 25,6% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, impor minyak sawit India pada bulan Agustus justru meningkat 7% dibandingkan Juli, mencapai 782.761 ton, berdasarkan data dari Solvent Extractors’ Association of India (SEA).

Pergerakan harga CPO juga dipengaruhi oleh dinamika pasar minyak nabati lainnya. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat turun 1,07%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian melemah 0,46%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai justru naik 0,58%. CPO bersaing dengan minyak nabati lainnya untuk mendapatkan pangsa pasar global, sehingga pergerakan harga minyak kedelai dan minyak nabati lain turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Dalam pasar valuta, Ringgit Malaysia terpantau melemah 0,21% terhadap dolar AS. Pelemahan Ringgit ini membuat CPO yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Pasar keuangan Malaysia akan diliburkan pada Rabu (16/9/2026), dan perdagangan BMD akan kembali dibuka pada Kamis (17/9/2026).