— Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan global akibat gangguan ekspor dari Arab Saudi. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat mencatat level penutupan tertinggi sejak Mei lalu.

Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent ditutup naik US$ 3,07 atau 2,9% menjadi US$ 108,75 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI melonjak lebih tinggi, yaitu US$ 4,44 atau 4,38% menjadi US$ 105,83 per barel.

Kenaikan harga ini terjadi setelah sumber dari industri pelayaran melaporkan bahwa pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Arab Saudi, Yanbu, yang berlokasi di Laut Merah, telah dihentikan. Selain itu, Riyadh juga membatalkan sejumlah pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa.

Situasi ini memperbesar kekhawatiran pasar bahwa gangguan terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi yang sangat vital dapat berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Pelabuhan Yanbu kini memegang peranan krusial bagi pasokan minyak global, terutama setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran mengganggu Selat Hormuz. Sebelumnya, Selat Hormuz merupakan rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Untuk mengatasi hal tersebut, Arab Saudi mengandalkan East-West Pipeline, sebuah jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer, yang berfungsi mengalirkan minyak dari wilayah timur negara itu menuju Yanbu di pesisir barat. Jalur pipa ini memungkinkan minyak diekspor melalui Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Namun, serangan terhadap East-West Pipeline pada Jumat lalu memaksa Arab Saudi menghentikan operasional jalur ekspor tersebut. Serangan lanjutan yang terjadi pada Senin semakin memperbesar kekhawatiran pasar mengenai keberlangsungan pasokan minyak global.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menyatakan bahwa pembatalan pengiriman minyak Arab Saudi ke Eropa akan mendorong kilang-kilang di Eropa untuk mencari pasokan alternatif dari Amerika Serikat. Hal ini turut berkontribusi pada kenaikan harga WTI yang lebih cepat dibandingkan Brent. Investor membeli kontrak WTI dengan perkiraan bahwa gangguan ekspor Arab Saudi dapat berlangsung lebih lama.

Tekanan terhadap pasokan minyak juga datang dari Libya. National Oil Corporation (NOC) melaporkan bahwa operasi di tiga ladang minyak terpaksa dihentikan menyusul penutupan katup pada jalur pipa ekspor minyak Hamada-Zawiya oleh anggota Petroleum Facilities Guard. NOC bahkan mengeluarkan peringatan bahwa mereka dapat menyatakan kondisi force majeure jika katup tersebut tetap tertutup atau jika gangguan meluas ke ladang minyak lainnya.

Sementara itu, serangan terhadap infrastruktur energi di Rusia dan Ukraina turut mendorong kenaikan harga produk bahan bakar di Amerika Serikat. Kontrak berjangka diesel AS dan margin diesel mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.

Ekonom senior iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, berpendapat bahwa serangan baru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dapat memengaruhi ekspektasi investor mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik yang sedang berlangsung. Goldman Sachs memperkirakan waktu perbaikan jalur pipa Saudi dapat bervariasi antara ‘sangat segera’ hingga delapan pekan. Jika gangguan tersebut berlangsung lama, Goldman Sachs memproyeksikan harga Brent berpotensi menembus US$ 120 per barel.

Di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan bahwa minyak diperkirakan dapat kembali mengalir melalui East-West Pipeline Saudi dalam hitungan hari. Data awal dari Kpler menunjukkan bahwa lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz menurun menjadi empat kapal pada Senin, dibandingkan dengan 10 kapal pada hari sebelumnya.