— Massindo Group, perusahaan manufaktur perlengkapan tidur, kini memperluas portofolio produknya dengan menghadirkan merek asal Australia, DrRest®, di Indonesia. Peluncuran ini menandai kehadiran pertama DrRest di luar Australia, dengan showroom perdana berlokasi di Indonesia Design District, PIK 2, Jakarta.

DrRest merupakan kasur yang dikembangkan berdasarkan riset mendalam dan aspek kesehatan tidur oleh empat dokter spesialis terkemuka asal Australia. Keempat dokter tersebut adalah Dr. Gerald Quan, seorang ahli bedah ortopedi tulang belakang; Dr. Nick Antoniades, spesialis pernapasan dan tidur; Dr. George Michael, seorang osteopath; dan Dr. Peter Liodakis, seorang urolog.

Presiden Direktur Massindo Group, Jeffri Massie, menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di luar Australia yang secara resmi memperkenalkan DrRest. “Showroom DrRest pertama di Indonesia dibuka di Indonesia Design District pada kawasan seluas 10 hektare bersama dengan furniture dan home materials yang paling lengkap di Indonesia. Nanti akan dibuka juga di BSD dan Jakarta Pusat dan secara bertahap di kota-kota besar lain di Indonesia,” ujar Jeffri dalam keterangan rilisnya.

Pengembangan DrRest berawal dari pengalaman keempat dokter dalam menangani pasien dengan berbagai kondisi yang berkaitan dengan kualitas tidur. Mereka menemukan bahwa permukaan tidur dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan dan kondisi pasien, termasuk bagi mereka yang mengalami nyeri punggung, gangguan pernapasan saat tidur, atau sering terbangun di malam hari.

Proses pengembangan DrRest melibatkan observasi dan pengujian terhadap lebih dari 550 pasien. Pengujian ini mencakup parameter seperti keselarasan tulang belakang, distribusi tekanan pada tubuh, kualitas tidur berdasarkan siklus tidur, dan frekuensi terbangun di malam hari. Pengujian juga mempertimbangkan berbagai posisi tidur, termasuk posisi menyamping yang dapat memberikan tekanan lebih besar pada area bahu dan pinggul.

Hasil pengembangan ini diterapkan dalam satu konfigurasi DrRest, tanpa pilihan tingkat kekerasan seperti soft, medium, atau firm. Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah Technogel, material berbasis gel yang dikembangkan di Italia dan telah digunakan dalam aplikasi medis untuk membantu mengelola tekanan pada tubuh pasien.

Dalam desain DrRest, Technogel berfungsi untuk mendistribusikan tekanan pada permukaan tubuh, mengelola panas, serta mendukung posisi tubuh saat tidur. Material ini memiliki karakteristik seperti cairan yang dapat berfungsi layaknya benda padat.

“Sebagai ahli bedah yang telah bekerja selama lebih dari 20 tahun, saya terbiasa menggunakan Technogel di ruang operasi untuk menopang dan menstabilkan pasien selama prosedur bedah yang berlangsung selama beberapa jam. Saya kemudian berpikir bahwa material ini dapat digunakan pada kasur untuk membantu menjaga keselarasan dan kestabilan tubuh, sekaligus mendukung distribusi tekanan,” jelas Dr. Gerald Quan.

Pendekatan DrRest ini menempatkan aspek kesehatan dan fisiologi tubuh sebagai pertimbangan utama. Berbeda dengan kasur konvensional, DrRest dikembangkan dalam satu konfigurasi tunggal karena materialnya dirancang untuk beradaptasi dengan tubuh.

Dr. George Michael menjelaskan bahwa kasur umumnya dikategorikan berdasarkan tingkat keempukan, namun tubuh seharusnya tidak terus-menerus menyesuaikan diri dengan kasur. Sebaliknya, kasur perlu menyesuaikan diri dengan tubuh. “Kasur yang terlalu keras mungkin menjaga keselarasan tulang belakang, tetapi meningkatkan tekanan pada titik tertentu. Sementara itu, kasur yang lebih empuk dapat mengurangi tekanan, tetapi tidak selalu menjaga keselarasan tulang belakang,” terangnya.

Tantangan dalam pengembangan DrRest adalah menyeimbangkan kedua aspek tersebut, sehingga permukaan kasur dapat menyesuaikan diri dengan berat, ukuran, bentuk, dan tinggi tubuh yang berbeda.

Dalam rangkaian peluncuran, DrRest juga menghadirkan Dr. Andreas Prasadja, praktisi kedokteran tidur di Indonesia, dalam forum “Health Talk: Are You Sleeping Right?”. Forum ini membahas keterkaitan antara kualitas tidur dengan kesehatan tulang belakang, pernapasan, dan kondisi urologis. “Selama dua dekade, saya melihat pasien Indonesia datang dengan gejala yang sudah berlangsung bertahun-tahun mendengkur keras, rasa lelah di pagi hari, sulit konsentrasi tapi baru mau ke dokter setelah kondisinya sudah serius. Kalau sesekali mendengkur memang benar lagi capek doang, enggak apa-apa. Nah, kalau setiap tidur mendengkur, nah ini yang mesti kita waspadai enggak boleh diabaikan. Karena bisa jadi ada risiko kesehatan loh,” ujar Andreas Prasadja.