— JAKARTA – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), sebuah konglomerasi yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas, terus berupaya melakukan diversifikasi bisnisnya. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap sektor batu bara.

Saat ini, DSSA memiliki empat lini usaha utama. Keempatnya meliputi bisnis batu bara, infrastruktur digital dan teknologi, bahan kimia, serta energi baru dan terbarukan. Meskipun demikian, bisnis batu bara masih menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi DSSA.

Dominasi Bisnis Batu Bara

Pada tahun 2025, bisnis batu bara menyumbang 89,1% terhadap total pendapatan DSSA. Pendapatan ini sebagian besar berasal dari anak usaha yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). GEMS mengelola konsesi pertambangan seluas lebih dari 66.000 hektare di Sumatra dan Kalimantan.

Pada 2025, volume produksi batu bara DSSA mencapai 57,2 juta ton. Angka ini menempatkan perusahaan sebagai produsen batu bara dengan volume produksi terbesar keempat di Indonesia. Total pendapatan konsolidasian DSSA pada tahun tersebut mencapai US$ 2,79 miliar.

Sementara itu, segmen infrastruktur digital dan teknologi berkontribusi sebesar 7,6% terhadap pendapatan. Disusul oleh segmen bahan kimia sebesar 3,3%, dan energi baru serta terbarukan sebesar 0,01%.

Tekanan pada Kinerja Keuangan

Memasuki kuartal I-2026, bisnis batu bara DSSA menghadapi tekanan signifikan. Hal ini disebabkan oleh penurunan volume produksi dan normalisasi harga komoditas. Kondisi ini berdampak pada profitabilitas perusahaan.

Margin laba kotor tercatat turun menjadi 35,6%, dari sebelumnya 39% pada kuartal I-2025. Margin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) juga mengalami penurunan menjadi 16,9%, dari 20,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Transformasi Bisnis Menuju Diversifikasi

Di tengah tekanan tersebut, DSSA berupaya keras mengubah struktur bisnisnya yang selama ini sangat bergantung pada batu bara menjadi lebih terdiversifikasi. Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, menilai transformasi ini sangat penting, terutama melalui pengembangan infrastruktur digital dan teknologi.

Adolf memperkirakan perubahan ini membutuhkan waktu yang cukup panjang sebelum memberikan dampak signifikan terhadap laba perseroan. Salah satu langkah strategisnya adalah penggabungan bisnis internet pita lebar (broadband) dan televisi berbayar DSSA, MyRepublic, dengan Moratel menjadi MoraRepublic.

MoraRepublic kini menjadi penyedia layanan internet pita lebar tetap (fixed broadband) terbesar kedua di Indonesia berdasarkan jumlah homepass, setelah IndiHome milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Keberhasilan dalam lelang spektrum juga memberikan ruang tambahan untuk pengembangan bisnis ini.

Pengembangan Energi Terbarukan dan Digital

Selain bisnis digital, DSSA juga mengembangkan portofolio energi terbarukan. Perusahaan tengah mengembangkan pembangkit panas bumi dengan kapasitas hingga 440 megawatt (MW) di enam lokasi melalui kerja sama dengan FirstGen Geothermal Indonesia. Tiga dari enam proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029.

DSSA juga membangun pabrik sel surya dan panel surya terintegrasi pertama dan terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kendal. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi hingga 1 gigawatt (GW) per tahun.

Meskipun kontribusi bisnis energi baru dan terbarukan serta lini baru lainnya terhadap pendapatan DSSA masih relatif kecil, pengembangan ini menunjukkan perubahan arah alokasi modal dan fokus strategis jangka panjang perusahaan. Transformasi ini diperkirakan membutuhkan waktu sebelum memberikan kontribusi yang berarti terhadap kinerja keuangan.

Potensi Perubahan Valuasi Saham

Apabila pengembangan bisnis baru mencapai skala yang ditargetkan, model usaha DSSA berpotensi berubah dari konglomerasi yang sangat bergantung pada batu bara menjadi perusahaan dengan sumber pendapatan yang lebih terdiversifikasi. Perubahan profil bisnis ini juga berpotensi membuat DSSA memiliki kerangka valuasi yang berbeda.

Saat ini, fundamental DSSA dinilai masih relatif solid. Namun, harga saham DSSA berpotensi tetap tertekan hingga porsi saham publik (free float) serta struktur kepemilikannya diperluas secara signifikan.

Saham DSSA sempat mengalami tekanan setelah masuk dalam klasifikasi konsentrasi kepemilikan saham tinggi (high shareholding concentration/HSC) dan dikeluarkan dari sejumlah indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Pada April 2026, DSSA melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:25, setelah sebelumnya melakukan stock split dengan rasio 1:10 pada 2024.

Akibatnya, dana pasif yang mengikuti indeks-indeks tersebut harus melepas kepemilikan saham DSSA tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan. Dinamika ini menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan saham DSSA, selain perkembangan fundamental dan transformasi bisnis perseroan.