— JAKARTA – PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) resmi meluncurkan ITSEC Cyber & AI Academy, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memperkuat talenta di bidang keamanan siber (cybersecurity) dan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Akademi ini berfokus pada pembelajaran berbasis praktik, pengalaman dunia nyata, serta teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan profesional dan organisasi.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menyatakan bahwa pengalaman 16 tahun perusahaan di industri keamanan siber menjadi landasan dalam pengembangan akademi ini. Ia berharap, pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran yang relevan bagi para profesional untuk menghadapi tantangan digital masa depan Indonesia.

“Selama 16 tahun, ITSEC Asia telah berada di garis depan cybersecurity. Sekarang kami membawa pengalaman tersebut ke dalam pengembangan talenta yang akan menjadi bagian dari generasi berikutnya yang menjaga masa depan digital Indonesia,” ujar Patrick saat peluncuran di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Patrick menambahkan, perkembangan pesat dalam tantangan cybersecurity dan AI menuntut lebih banyak profesional yang mampu mengamankan dan menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab. “ITSEC Cyber & AI Academy merupakan bagian dari komitmen kami untuk berkontribusi pada penguatan kapabilitas digital Indonesia,” katanya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti kesenjangan talenta digital di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada tahun 2030, sementara saat ini baru memiliki sekitar 3 juta. Nezar menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan untuk mengatasi kesenjangan ini.

“Inisiatif seperti ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi bagian dari upaya tersebut dengan memperkuat kesiapan talenta di bidang cybersecurity dan AI,” tutur Nezar.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan bahwa data Indonesia akan menjadi kekuatan strategis jika memiliki kemampuan untuk dilindungi dan digunakan dengan tepat. Ia menambahkan bahwa AI dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan, namun hal ini memerlukan talenta yang memahami teknologi sekaligus data dasarnya.

Dua Fokus Utama Akademi

ITSEC Cyber & AI Academy memiliki dua fokus utama: defend & attack untuk Cybersecurity Academy, dan build & govern untuk AI Academy. Pendekatan defend & attack bertujuan membangun kemampuan dalam memahami, menguji, mempertahankan, dan merespons ancaman siber, memberikan perspektif defensif dan ofensif.

Sedangkan, fokus build & govern pada AI Academy berpusat pada kemampuan membangun, menerapkan, dan mengelola teknologi AI dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan tata kelola. Pendekatan ini menjawab kebutuhan organisasi yang semakin mengandalkan AI dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan.

President Director ITSEC Cyber & AI Academy, Yulius C. Rusli, menjelaskan bahwa kurikulum dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Peserta tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga mendapatkan kesempatan menguji kemampuan melalui asesmen, pembelajaran adaptif, dan simulasi yang menyerupai kondisi kerja sebenarnya.

Dukungan Ekosistem Teknologi

Untuk mendukung proses pembelajaran, akademi ini menghadirkan ekosistem teknologi yang mencakup asesmen, pembelajaran, pengembangan kompetensi, simulasi, dan kesadaran siber (cyber awareness). Sistem yang digunakan meliputi AKSI (Asesmen Kompetensi Sistematis dan Integratif), CAKRA (Capaian Akademik Kompetensi Siber Resiliensi Akselerasi), dan SAKTI (Sistem AI untuk Kompetensi, Teknologi, dan Inovasi) untuk pembelajaran adaptif AI dan cybersecurity.

Selain itu, PERISAI (Platform Emulasi Realistik untuk Intelijen Siber dan Ancaman Infrastruktur) menyediakan cyber range berbasis AI untuk simulasi skenario keamanan siber, AI, dan intelijen. JAGA (Jaringan Awareness dan Governance untuk Aset Nasional) mendukung kebutuhan cyber awareness melalui simulasi phishing berbasis AI dan pelatihan interaktif.

“Ekosistem tersebut memungkinkan akademi menghubungkan proses asesmen, pembelajaran, praktik, simulasi, dan evaluasi dalam satu perjalanan pengembangan kompetensi,” tegas Julius.