DailyFX.ID — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengeluarkan imbauan kepada seluruh elemen masyarakat, mulai dari petani hingga korporasi, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peringatan ini berlaku hingga akhir Oktober atau awal November 2026, seiring dengan perubahan proyeksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengindikasikan penundaan kedatangan musim hujan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa BMKG telah merevisi perkiraan awal musim hujan yang semula diprediksi mulai pada awal Oktober 2026. Berdasarkan analisis atmosfer terkini, hujan diperkirakan baru akan turun pada akhir Oktober atau awal November 2026. Kondisi ini secara signifikan memperpanjang periode ancaman karhutla.
Perpanjangan masa kritis ini disebabkan oleh intensitas fenomena El Nino yang saat ini melanda Indonesia, dikategorikan sangat kuat dan memiliki karakteristik serupa dengan El Nino ekstrem pada tahun 2015. Diperkirakan, masa kekeringan yang rentan terhadap kebakaran ini akan bertahan hingga sekitar satu setengah bulan ke depan.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menetapkan enam provinsi rawan sebagai prioritas penanganan dan pencegahan karhutla. Keenam provinsi tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kemenhut secara tegas meminta masyarakat serta pelaku usaha untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan atau tindakan lain yang dapat memicu api di area terbuka.
Penanganan karhutla, baik melalui upaya darat maupun udara, terus diperketat oleh tim gabungan yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berbagai upaya teknis telah dikerahkan, termasuk patroli udara, pemadaman api di darat, operasi water bombing, pembasahan lahan (land wetting), serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang disesuaikan dengan dinamika awan di lapangan. Peningkatan titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan menjadi salah satu pemicu penguatan upaya ini.
Data dari Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis BMKG menunjukkan bahwa 80,7 persen dari total Zona Musim (ZOM) di Indonesia, atau sebanyak 564 ZOM, telah memasuki musim kemarau. Lebih lanjut, BMKG mencatat 1.637 titik di Indonesia mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori ekstrem, dengan wilayah-wilayah tersebut tidak menerima hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Fenomena El Nino sendiri merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berimplikasi pada penurunan curah hujan yang drastis di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ketika El Nino mencapai intensitas sangat kuat, seperti pada tahun 2015 dan kembali terjadi pada 2026, kondisi kekeringan yang berkepanjangan membuat vegetasi hutan serta lahan gambut menjadi sangat rentan dan mudah terbakar.
Tertundanya awal musim hujan hingga bulan November secara signifikan meningkatkan risiko eskalasi titik panas (hotspot). Lahan gambut yang mengering memiliki karakteristik mudah menyebarkan api di bawah permukaan tanah dan menghasilkan kabut asap tebal yang sangat sulit dipadamkan. Oleh karena itu, sinergi dalam pemantauan teknis serta penghentian total praktik pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi faktor krusial dalam upaya pencegahan krisis lingkungan dan bencana asap lintas batas.
Ikuti DailyFX.ID
