DailyFX.ID — JAKARTA – Fenomena El Nino menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor pangan Indonesia, memicu kemarau panjang yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan mendorong inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,19% (year to year/yoy) pada Agustus 2026, dengan inflasi bahan makanan mencapai 4,22% (year to year/yoy).
Menyikapi tantangan ini, Bank Indonesia (BI) terus bersinergi dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Fokus utama GPIPS adalah penguatan strategi 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif, yang disesuaikan dengan kondisi daerah.
Meskipun upaya pengendalian inflasi pangan telah berhasil menjaga stabilitas harga dalam kisaran sasaran, dinamika bencana alam seperti gempa bumi di Nusa Tenggara Timur dan erupsi Gunung Anak Krakatau menunjukkan potensi volatilitas harga pangan yang perlu diantisipasi. Kerusakan infrastruktur irigasi dan gangguan distribusi barang menjadi contoh nyata dampak bencana terhadap ketahanan pangan.
Pemerintah didorong untuk memperkuat pengendalian inflasi pangan melalui diversifikasi pangan masyarakat. Langkah ini mencakup variasi jenis komoditas bahan makanan dan upaya hilirisasi. Dengan kekayaan sumber daya hayati Indonesia, diversifikasi pangan strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama seperti beras, yang memerlukan infrastruktur memadai.
Diversifikasi pangan berfungsi sebagai pengelola risiko portofolio. Jika produksi satu komoditas terganggu faktor alam, kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi oleh sumber pangan alternatif yang lebih resilien. Keberhasilan strategi ini tidak hanya bergantung pada produktivitas, tetapi juga penerimaan masyarakat terkait selera, kebiasaan, kemudahan pengolahan, dan prestise pangan.
Beberapa komoditas adaptif terhadap gangguan alam meliputi sorgum yang tumbuh di lahan kering, ubi jalar yang adaptif di berbagai jenis lahan seperti di Papua dengan luas tanam 70.000 hektar pada 2026, milet yang subur di Sulawesi dan berpotensi dikembangkan menjadi produk gluten-free, serta singkong yang berkembang baik di Lampung dan toleran terhadap cuaca ekstrem serta tanah asam.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Pemerintah dapat menjadi sarana perubahan pola konsumsi pangan terdiversifikasi kepada generasi muda. Kamboja telah mengintegrasikan pendidikan gizi dan dukungan petani lokal melalui program makanan beragam di sekolah sejak 2022. India mengembangkan millet sebagai bahan pangan adaptif, sementara Filipina menjadikan singkong dan jagung putih sebagai pelengkap konsumsi beras.
Upaya hilirisasi produk pertanian juga menjadi strategi penting. Pengolahan singkong menjadi tapioka atau porang menjadi beras analog dan mie rendah kalori dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Bank Indonesia mendukung sektor ini melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan perbankan pada industri pengolahan dan hilirisasi pertanian, yang telah diserap bank sebesar Rp446,5 triliun hingga Agustus 2026.
Komitmen Bank Indonesia dalam mendorong pembiayaan perbankan ini bertujuan memperkuat pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional. Pada akhirnya, ketahanan pangan Indonesia akan semakin kuat ketika masyarakat memiliki banyak pilihan sumber pangan, terutama saat kondisi alam tidak bersahabat.
Ikuti DailyFX.ID
