DailyFX.ID — Harga emas mencatat penguatan tipis pada perdagangan Selasa (25/8/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Namun, kenaikan emas tertahan di kisaran US$ 4.700 per ons troi seiring antisipasi pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) dan petunjuk arah kebijakan The Fed.
Dalam penutupan perdagangan, harga emas spot tercatat menguat 0,16% menjadi US$ 4.658,87 per ons troi. Sempat menyentuh US$ 4.696,18 per ons troi, level tertinggi sejak 14 Mei 2026, pergerakan emas berjangka AS juga positif dengan kenaikan 0,39% ke US$ 4.715,9 per ons troi.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, menilai pelemahan momentum kenaikan emas lebih disebabkan oleh mendekatnya harga ke area resistance yang kuat. “Ini hanya penurunan momentum. Pergerakan emas kemungkinan tertahan oleh resistance kuat di sekitar US$ 4.700 per ons troi,” ujar Melek seperti dikutip dari Reuters.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Juli yang dijadwalkan rilis Rabu (26/8/2026). Data ini merupakan salah satu indikator kunci yang digunakan The Fed untuk mengukur inflasi dan mengejar target inflasi sebesar 2%.
Selain itu, pasar juga menantikan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Pernyataan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.
Sebelumnya, data inflasi produsen dan konsumen AS yang menunjukkan angka lebih lunak telah meredakan kekhawatiran mengenai potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September hanya sebesar 38%.
Perlu diketahui, suku bunga yang tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena aset ini tidak menawarkan imbal hasil bunga.
Permintaan fisik di China turut memberikan dorongan bagi penguatan emas. Data terbaru menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli meningkat sekitar 11% dibandingkan bulan sebelumnya, didorong oleh lonjakan permintaan investasi.
Di pasar valuta asing, pelemahan dolar AS sebelumnya juga turut mendongkrak harga emas. Pergerakan dolar tertekan setelah Departemen Keuangan AS memutuskan untuk menggandakan ukuran operasi pembelian kembali surat utang berjangka panjang dan obligasi.
Dalam konteks geopolitik, Iran berjanji akan melawan sanksi AS yang diperluas untuk mengisolasi perekonomiannya. Teheran juga menyatakan keyakinan bahwa mitra dagang utama akan menolak tekanan Washington dan menilai AS masih berkeinginan menghidupkan kembali perundingan.
Sementara itu, di pasar komoditas logam lainnya, harga perak spot mengalami penurunan 0,52% menjadi US$ 68,6 per ons. Platinum juga jatuh 0,99% menjadi US$ 1.861,91 per ons, sedangkan paladium anjlok 1,5% menjadi US$ 1.335,28 per ons.
Ikuti DailyFX.ID
