— Amerika Serikat (AS) meluncurkan operasi perang ekonomi yang bertujuan mengisolasi Iran dari perekonomian global. Pemerintah AS mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder bagi negara maupun entitas yang masih nekat memfasilitasi aktivitas perdagangan dengan Iran. Langkah keras ini diambil guna memutus pasokan dana vital yang menyokong perekonomian Iran selama konfrontasi melanda kawasan.

Ancaman sanksi ini menempatkan AS pada posisi berhadapan langsung dengan sejumlah negara yang menjadi mitra dagang utama Iran. Meskipun efektivitasnya memicu skeptisisme, dampak potensialnya terasa signifikan.

China

China merupakan pembeli minyak terbesar Iran yang menyerap sekitar 90% dari total ekspor minyak negara tersebut. Sebagian besar pasokan minyak dibeli oleh kilang independen melalui perantara di luar sistem dolar AS. Meski China menentang sanksi secara terbuka, pengamat memperkirakan bank serta perusahaan minyak milik negara China akan secara diam-diam meningkatkan kepatuhan guna menjaga akses terhadap sistem finansial dan pasar AS.

Uni Emirat Arab (UEA)

Uni Emirat Arab (UEA) berperan sebagai pusat transit dan keuangan utama Iran, dengan nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai puluhan miliar dolar. Namun, hubungan ini merenggang setelah UEA membekukan transaksi keuangan dan perdagangan akibat serangan rudal yang menyasar wilayahnya. AS mendorong otoritas UEA memperketat pengawasan terhadap aktivitas shadow banking dan penyelundupan di Dubai.

Turki

Turki bergantung pada pasokan gas alam dari Iran untuk kebutuhan energinya, sembari mengekspor mesin, produk kimia, serta hasil pertanian. Walau tengah berupaya mendiversifikasi pasokan gas dari Azerbaijan dan Rusia, pemerintah Turki hingga saat ini belum memberikan sinyal akan memutus hubungan dagang dengan Iran.

Irak

Irak menggantungkan lebih dari 30% pasokan listrik dan kebutuhan gas alamnya pada Iran. Perdagangan kedua negara mencakup pasokan bahan pangan dan barang konsumsi. Namun, ancaman sanksi baru dari AS berpotensi menghambat proses pembayaran energi dari Irak ke Iran.

India

India terutama mengekspor komoditas pangan seperti beras, teh, dan gula ke Iran. Kendati sempat melanjutkan kembali impor minyak mentah Iran setelah pelonggaran sanksi sementara, kilang-kilang di India kini berisiko menghadapi sanksi keras jika AS merealisasikan ancamannya secara penuh.

Strategi tekanan maksimum yang kembali diterapkan oleh pemerintahan AS bertujuan menutup seluruh akses finansial dan perdagangan internasional Iran. Langkah ini diambil setelah rentetan konflik regional yang berkepanjangan memicu instabilitas di Timur Tengah. Dengan menargetkan jaringan perdagangan minyak, pasokan energi, hingga transaksi perbankan di negara mitra, pihak AS berusaha memperlemah kapasitas ekonomi Iran. Kendati demikian, kebijakan ini berpotensi memicu ketegangan diplomatik baru dengan negara-negara konsumen utama energi Iran serta merombak peta rantai pasok global.