— Investor spekulatif menunjukkan pandangan yang semakin optimis terhadap harga emas dalam beberapa pekan terakhir. Peningkatan ketidakpastian terkait utang pemerintah Amerika Serikat (AS) memicu kembali tren perdagangan yang mengantisipasi penurunan nilai dolar (debasement trade).

Meskipun posisi spekulatif bullish telah mencapai level tertinggi tahun ini, sentimen pasar secara keseluruhan masih berada di bawah level 12 bulan terakhir dan jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun.

Survei Manajer Dana Global Agustus 2026 yang disusun Bank of America (BofA) menilai bahwa harga emas masih memiliki potensi untuk bergerak lebih tinggi. Hal ini didukung oleh model tim Strategi Komoditas BofA yang menunjukkan aktivitas pembelian investor saat ini lebih sejalan dengan harga emas di level US$ 4.000. Candace Browning Platt, Kepala Riset Global di BofA, menyatakan bahwa pembelian oleh investor perlu meningkat lebih cepat sebelum harga dapat mencapai US$ 5.000.

“Pembelian oleh bank sentral sudah memberikan kontribusi signifikan dan berada jauh di atas rata-rata 12 bulan pada bulan Juni. Pertemuan Jackson Hole yang bernada dovish pekan ini akan menjadi faktor pendorong kenaikan harga emas,” ujar Platt, dikutip dari Kitco News, Selasa (25/8/2026).

Pasar emas telah mengalami pemulihan signifikan dari level terendah pada bulan Juli. Analis memprediksi berlanjutnya kenaikan harga cukup besar.

Di sisi lain, sejumlah analis mencatat bahwa pergerakan logam mulia ini masih menghadapi hambatan. Salah satu faktornya adalah kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi AS, sehingga memperluas ruang bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, berpendapat, “Kekhawatiran mengenai penurunan nilai mata uang AS (USD) semestinya memberikan dukungan kuat bagi harga emas dalam beberapa minggu mendatang, mengingat The Fed belum memberikan sinyal yang jelas bahwa mereka siap memerangi lonjakan inflasi.”

Namun, Melek menambahkan, “Masih terlalu dini bagi harga emas untuk melonjak hingga mencapai target kami di level US$ 5.350 per troy ounce, mengingat adanya risiko kenaikan suku bunga dalam jangka pendek seiring dengan tren kenaikan harga minyak mentah.”