DailyFX.ID — JAKARTA – Harga emas diprediksi akan melanjutkan penguatannya setelah meroket 15% dalam sebulan terakhir. Pluang memproyeksikan logam mulia ini berpotensi mencapai US$ 5.200 per troy ons dalam 12 bulan ke depan. Proyeksi ini didukung oleh potensi pelonggaran likuiditas dolar Amerika Serikat (AS) yang menyerupai kebijakan quantitative easing (QE).
Head of Research Pluang, Jason Gozali, menjelaskan bahwa penguatan harga emas tidak hanya dipicu oleh konflik Iran. Reli ini juga mencerminkan keraguan pasar terhadap arah kebijakan fiskal AS. Kekhawatiran ini muncul, terutama setelah adanya rencana Departemen Keuangan AS untuk memanfaatkan saldo Treasury General Account (TGA) guna membeli kembali obligasi jangka panjang.
Jason mengungkapkan bahwa area resistance terdekat untuk harga emas berada di kisaran US$ 4.900 hingga US$ 5.000 per troy ons. “Jika momentum penguatan berlanjut, target harga emas dalam 12 bulan sebesar US$ 5.200 per troy ons,” kata Jason di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, potensi penggunaan saldo TGA yang diperkirakan mencapai sekitar US$ 950 miliar untuk mendukung pembelian obligasi menunjukkan bahwa pemerintah AS perlu berperan dalam menahan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang. Langkah ini berpotensi melonggarkan likuiditas dolar AS dengan karakteristik yang mirip QE.
Secara historis, kondisi pelonggaran likuiditas dolar AS cenderung menguntungkan emas, Bitcoin, dan aset berisiko lainnya secara bersamaan. Pluang juga melihat potensi Bitcoin untuk menembus US$ 100.000 jika arus masuk ETF kembali positif secara konsisten.
TGA sendiri merupakan rekening kas pemerintah AS yang dikelola oleh Federal Reserve (The Fed). Dana dalam rekening ini berasal dari penerimaan pajak yang telah terkumpul dan berfungsi sebagai cadangan kas negara.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menetapkan peningkatan saldo TGA menjadi sekitar US$ 950 miliar. Jumlah ini jauh melampaui target yang ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, yaitu sekitar US$ 550 miliar hingga US$ 600 miliar.
Dikutip dari CNBC, dua pejabat senior Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa saldo TGA dapat dimanfaatkan untuk mendukung rencana peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah. Penggunaan dana ini akan memperbesar kemampuan Treasury dalam memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang.
Meskipun demikian, kedua pejabat tersebut belum merinci berapa besar saldo TGA yang akan digunakan maupun jadwal pelaksanaannya. Mereka hanya mengonfirmasi bahwa dana tersebut siap untuk digunakan.
Ikuti DailyFX.ID
