DailyFX.ID — Harga emas masih menjadi pilihan utama sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi. Namun, para pakar mulai mengamati sejumlah sinyal teknikal yang mengindikasikan potensi koreksi dalam jangka pendek.
Saat berita ini ditulis pada Kamis (13/8/2026), harga emas tercatat naik tipis 0,03% menjadi US$ 4.409,57 per ons troi. Angka ini menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa momentum kenaikan harga emas mulai kehilangan kekuatannya setelah gagal mempertahankan posisi di atas level resistance penting US$ 4.433 per ons troi. “Kondisi tersebut membuat pelaku pasar perlu mewaspadai potensi koreksi sebelum harga menentukan arah tren berikutnya,” ungkap Geraldo dalam risetnya.
Lebih lanjut, Geraldo memaparkan bahwa dalam time frame H4, harga emas menunjukkan sinyal pelemahan pasca mengalami false break di area resistance US$ 4.433 per ons troi. Kegagalan untuk bertahan di atas level tersebut mengindikasikan tekanan beli mulai berkurang, sementara aksi jual kembali muncul di area yang sebelumnya menjadi target kenaikan.
Situasi ini membuka peluang terbentuknya pola Double Top, yang merupakan indikasi awal pembalikan arah. Pola ini terbentuk ketika harga dua kali gagal menembus level tertinggi yang sama. “Jika pola tersebut terkonfirmasi, tekanan jual berpotensi semakin kuat dan membuka ruang koreksi harga emas,” tambah Geraldo.
Selain itu, indikator Stochastic juga mulai memberikan sinyal yang patut dicermati. Geraldo melihat potensi terbentuknya Bearish Divergence, yaitu kondisi di mana harga masih berada di area tinggi namun momentum indikator mulai melemah. Hal ini menunjukkan tren kenaikan mulai kehilangan kekuatan sehingga risiko koreksi meningkat.
Berdasarkan kombinasi indikator teknikal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpotensi bergerak turun menuju area US$ 4.359 per ons troi hingga US$ 4.313 per ons troi. Zona ini menjadi area penting yang perlu diperhatikan karena berpotensi menjadi titik munculnya kembali minat beli apabila tekanan jual mulai mereda.
Meski demikian, Geraldo menegaskan bahwa potensi koreksi ini belum menunjukkan perubahan tren utama menjadi bearish. Pelemahan yang terjadi lebih tepat dipandang sebagai koreksi teknikal setelah harga mengalami reli signifikan dalam beberapa waktu terakhir. “Karena itu, trader disarankan menunggu konfirmasi tambahan sebelum mengambil keputusan transaksi, terutama jika harga mulai menunjukkan reaksi positif di area support,” ujarnya.
Fundamental Masih Kuat
Di tengah sinyal teknikal yang mulai melemah, Geraldo menekankan bahwa fundamental harga emas masih relatif kuat. Salah satu penopang utama datang dari data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Data ini membuat pelaku pasar menilai peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
Menurut Geraldo, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan sentimen positif bagi emas. Ketika prospek suku bunga tinggi mereda, tekanan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas cenderung berkurang. Kondisi ini membuat permintaan terhadap emas tetap terjaga meskipun secara teknikal mulai muncul sinyal koreksi.
Selain kebijakan moneter, Geraldo menambahkan, ketidakpastian terkait perkembangan situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian investor global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi strategis dunia. Potensi gangguan di kawasan tersebut dapat meningkatkan risiko geopolitik dan mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset safe haven, termasuk emas.
Geraldo mencatat, harga emas masih berada di level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Posisi ini menunjukkan tren jangka menengah masih relatif kuat. Namun, setelah reli yang cukup panjang, aksi ambil untung (profit taking) menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Ketiga faktor ini akan menjadi penentu apakah koreksi teknikal yang terjadi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam.
Dengan demikian, meski fundamental masih mendukung emas sebagai aset safe haven, kegagalan menembus US$ 4.433 per ons troi, potensi Double Top, dan sinyal Bearish Divergence pada Stochastic menjadi peringatan bagi pelaku pasar. “Jika tekanan jual berlanjut, area US$ 4.359 per ons troi hingga US$ 4.313 per ons troi menjadi level yang patut dicermati sebelum harga emas menentukan arah pergerakan berikutnya,” tutupnya.
Ikuti DailyFX.ID
