— Harga batu bara dunia kembali menunjukkan tren menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Kenaikan harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor utama yang turut menopang pergerakan komoditas energi hitam ini.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 tercatat naik sebesar US$ 0,2, mencapai US$ 129,5 per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 menguat US$ 0,1 ke level US$ 134,1 per ton, dan kontrak Oktober 2026 meningkat US$ 0,1 menjadi US$ 136,4 per ton.

Penguatan serupa juga terlihat pada batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 naik US$ 0,5 menjadi US$ 122,6 per ton. Kontrak September 2026 meningkat US$ 0,4 menjadi US$ 122,6 per ton, dan kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,75 menjadi US$ 124,45 per ton.

Menurut TradingView, kenaikan harga batu bara ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan tersebut dipicu oleh ketidakpastian seputar kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak mentah secara umum meningkatkan insentif untuk melakukan ‘fuel switching’ atau peralihan sumber bahan bakar. Hal ini terutama relevan bagi negara-negara pengimpor energi di Eropa dan Asia yang mencari alternatif bahan bakar.

Ketika harga minyak semakin tinggi, batu bara berpotensi menjadi alternatif yang lebih kompetitif bagi pembangkit listrik yang memiliki fleksibilitas dalam memilih bahan bakar. Situasi ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan batu bara sekaligus menopang harganya di pasar global.

China Modernisasi Industri Batu Bara

Sentimen positif lainnya datang dari Tiongkok, di mana pemerintah berkomitmen untuk memperkuat dan memodernisasi industri batu bara domestik. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) bersama Administrasi Energi Nasional China (NEA) telah merilis Rencana Lima Tahun ke-15 yang berfokus pada pengembangan industri batu bara.

Rencana tersebut menetapkan target ambisius untuk tahun 2030, yaitu proporsi kapasitas produksi dari tambang batu bara besar dan modern mencapai 87%. Selain itu, proporsi tambang pintar atau ‘intelligent mines’ ditargetkan mencapai 75% dari total kapasitas produksi.

Pemerintah China juga berupaya meningkatkan cadangan kapasitas produksi tahunan hingga melebihi 100 juta ton metrik. Upaya ini mencakup peningkatan kapasitas tambang modern dan pintar, serta percepatan penutupan tambang-tambang yang dianggap tidak efisien melalui mekanisme pasar dan jalur hukum.

Lebih lanjut, pemerintah akan menerapkan persyaratan penggantian kapasitas secara ketat untuk pembangunan kapasitas produksi baru. Kebijakan ini mencerminkan komitmen Tiongkok untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi batu bara nasional, sekaligus mengendalikan kapasitas tambang yang sudah ketinggalan zaman.