DailyFX.ID — JAKARTA – Harga emas mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Rabu (12/8/2026), didorong oleh data inflasi Amerika Serikat yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Rilis data ini meredakan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed pada September mendatang.
Harga emas spot ditutup menguat 0,93% ke level US$ 4.408,59 per ons troi. Bahkan, harga emas sempat melonjak lebih dari 1% ke level tertingginya sejak 5 Juni 2026. Penguatan ini juga menandai tembusnya harga emas di atas rata-rata pergerakan 100 hari (MA 100) yang berada di kisaran US$ 4.387,22 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,63% menjadi US$ 4.469,2 per ons troi.
Data menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS meningkat tipis 0,1% pada Juli, sesuai dengan perkiraan para ekonom. Angka ini berbanding terbalik dengan penurunan 0,4% yang tercatat pada Juni. Data inflasi yang sesuai ekspektasi ini dinilai mengurangi alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan September.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di angka 40%, menurun dari 46% sebelum data inflasi dirilis.
Analis Marex, Edward Meir, menyatakan bahwa data CPI memberikan sentimen positif bagi emas. Selain inflasi yang sesuai perkiraan, pelemahan dolar AS dan faktor teknikal turut menopang kenaikan harga logam mulia tersebut.
The Fed pada 29 Juli lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, keputusan tersebut diwarnai perbedaan pendapat dari tiga dari 12 anggota pemilih yang menginginkan adanya kenaikan suku bunga.
Perlu dicatat, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Pasar Menanti Data PPI
Perhatian pasar selanjutnya kini beralih ke data Producer Price Index (PPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis (13/8/2026). Data ini akan menjadi petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Perkembangan geopolitik juga masih menjadi sorotan pasar. Amerika Serikat dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap pelayaran pada Selasa. Insiden ini terjadi di tengah meredupnya prospek berakhirnya konflik Iran.
Meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Jika harga minyak kembali mendekati US$ 100 per barel, tekanan inflasi dapat meningkat dan berpotensi mendorong suku bunga bertahan lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat membatasi potensi kenaikan harga emas.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot ditutup terkerek 0,98% menjadi US$ 65,34 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni. Harga platinum juga mencatat kenaikan 0,79% menjadi US$ 1.756,75 per ons. Namun, palladium ditutup melemah tipis 0,07% menjadi US$ 1.369,2 per ons.
Ikuti DailyFX.ID
