DailyFX.ID — Harga emas kini berada pada level support krusial yang memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi penurunan lebih lanjut. Para analis berharap logam mulia ini mampu bertahan di atas US$ 4.200 per ons troi.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa jika level support US$ 4.200 tidak dapat dipertahankan, harga emas berpotensi kembali menguji area US$ 4.000 hingga US$ 3.950 berdasarkan analisis teknikal.
Menurut Liza, level resistance harga emas tercatat berada di kisaran US$ 4.340-4.430. “Apabila harga emas mampu menembus level tersebut, tren kenaikan atau bullish berpeluang kembali berlanjut,” kata dia di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Namun, Liza menekankan bahwa pasar masih membutuhkan katalis yang kuat untuk mendorong kenaikan harga emas. Perkembangan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta dinamika geopolitik global menjadi faktor utama yang terus dipantau.
“Harga emas di level support, berharap emas tidak tembus ke bawah US$ 4.200. Tapi kalau memang kenyataannya begitu, siap-siap harga emas balik ke US$ 4.000-3.950 lagi,” ujar Liza.
Keputusan The Fed terkait suku bunga masih menjadi penentu utama pergerakan harga emas. Apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga tahun ini, tekanan terhadap harga emas berpotensi terus berlanjut.
Sebelumnya, Ketua The Fed Kevin Warsh telah menyampaikan bahwa suku bunga masih berpeluang untuk meningkat pada tahun ini. Pasar kini menantikan dua pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), yaitu komite pembuat kebijakan moneter The Fed, yang dijadwalkan pada Oktober dan Desember.
Berdasarkan survei, suku bunga The Fed pada Desember diperkirakan akan berada di level 4,00-4,25%.
Selain kebijakan moneter, data tenaga kerja Amerika Serikat untuk periode September dan risiko konflik geopolitik juga menjadi perhatian penting. Liza menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam skala yang lebih besar dapat menjadi salah satu faktor yang kembali mendorong penguatan harga emas.
Dari sisi makroekonomi, kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan pada aktivitas bisnis karena perusahaan akan menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi menghambat ekspansi bisnis, menekan penyerapan tenaga kerja baru, serta berdampak pada payroll dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Liza menambahkan, apabila kondisi ekonomi global melemah hingga menimbulkan kekhawatiran resesi, harga emas pada akhirnya berpotensi kembali menunjukkan penguatan.
Ikuti DailyFX.ID
