— Harga emas dunia diproyeksikan dapat melanjutkan tren kenaikan dan berpotensi menembus level US$ 5.000 per troy ounce. Proyeksi ini muncul di tengah berbagai dinamika pasar global.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), harga emas spot tercatat melonjak 2,39% mencapai US$ 4.342,18 per troy ounce. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga minyak dunia yang juga menunjukkan tren positif.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa potensi kenaikan harga emas akan semakin kuat jika kesepakatan terkait jalur perlintasan Selat Hormuz berhasil tercapai. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat meredakan kekhawatiran mengenai pasokan minyak global.

Pada hari yang sama, harga minyak Brent untuk pengiriman selanjutnya mengalami kenaikan sebesar US$ 1,06 atau 1,3% menjadi US$ 83,55 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 89 sen atau 1,15% menjadi US$ 78,18 per barel.

“Kesepakatan Iran dengan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz kemungkinan besar akan segera tercapai,” ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu (9/8/2026). Ia menambahkan, perkembangan ini telah dilaporkan ke Amerika Serikat, meskipun Iran secara bersamaan melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab di wilayah tersebut.

Ibrahim memperkirakan, “Ada kemungkinan bahwa apabila perjanjian tercapai di Timur Tengah antara Oman dan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz (yang dapat meredam lonjakan harga minyak), harga emas bisa mencapai level US$ 5.000 per troy ounce di kuartal ketiga 2026.”

Mengenai pergerakan harga minyak mentah, Ibrahim memprediksi bahwa dalam sepekan ke depan akan berkisar di level support US$ 65,70 per barel dengan resistance di US$ 83,30 per barel.

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan bahwa ekspektasi penurunan harga minyak akibat meredanya ketegangan di Timur Tengah akan membuka peluang bagi investor global untuk mengalihkan dana mereka dari mata uang fiat ke emas sebagai aset *safe haven*.

Untuk pergerakan harga emas dunia dalam sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi berada di level support US$ 4.151 per troy ounce dan level resistance US$ 4.493 per troy ounce.