DailyFX.ID — Militer Iran menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan Iran dengan menyebut gertakan tersebut sebagai tanda keputusasaan strategis. Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran menegaskan kesiapannya untuk melancarkan serangan balasan yang jauh lebih mematikan, jika AS terus melanjutkan agresi dalam konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan ini.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, tuduhan tersebut disampaikan setelah Trump memanfaatkan panggung Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membenarkan tindakan militer AS. Pihak militer Iran menilai retorika yang diulang-ulang oleh pihak AS bukan mencerminkan kekuatan, melainkan memperlihatkan kebuntuan strategi di tengah kondisi pasukan AS yang dinilai mulai kelelahan.
Sebelumnya di hadapan Majelis Umum PBB, Trump menyatakan dirinya dihadapkan pada dua opsi yakni mencapai kesepakatan diplomatik atau menghancurkan Republik Islam Iran secara cepat. Trump juga menyerukan seluruh negara untuk menerapkan isolasi ekonomi secara total terhadap Iran, sembari mengisyaratkan kesepakatan baru kemungkinan baru akan terwujud setelah pemilu sela AS pada November 2026.
Di sisi lain, negosiasi tidak langsung antara kedua negara tetap bergulir di New York melalui mediasi di Qatar. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi, otoritas Iran telah menyampaikan syarat-syarat utama untuk menghentikan perang di seluruh front. Syarat tersebut mencakup penghentian agresi militer AS, pencabutan blokade laut serta perang ekonomi, dan pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan.
Seorang pejabat senior Iran menambahkan, jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu satu minggu apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut pemblokadean pelabuhan. Dampak konflik terhadap jalur perdagangan energi global terbilang signifikan. Data dari lembaga riset pelayaran Kpler menunjukkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz saat ini hanya mencapai rata-rata 6,98 juta barel per hari, atau sekitar 38% dari volume normal sebelum perang yang berkisar di angka 18,3 juta barel per hari.
Blokade armada laut AS juga menyebabkan ekspor minyak mentah Iran anjlok hingga menyentuh angka nol pada September, turun drastis dari 893.000 barel per hari pada Juli 2026. Jalur sempit tersebut kini lebih banyak dimanfaatkan oleh Arab Saudi untuk pengiriman minyak antarpelabuhan, menyusul terhentinya aliran pipa Timur-Barat menuju Laut Merah akibat serangan kelompok Houthi.
Ketidakpastian ini turut memengaruhi pasar komoditas global, di mana harga minyak mentah Brent tercatat naik 0,7% ke level US$ 99,90 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi tipis 0,1% menjadi US$ 90,42 per barel. Eskalasi ketegangan antara AS dan Iran kembali memuncak setelah perjanjian damai sementara yang disepakati pada Juli 2026 mengalami kegagalan.
Selat Hormuz memegang peranan krusial bagi ketahanan energi dunia karena menjadi jalur distribusi utama yang mengangkut sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas global. Penutupan jalur pelayaran, pemblokadean pelabuhan, serta sanksi ekonomi yang diterapkan AS tidak hanya melumpuhkan pendapatan ekspor Iran, tetapi juga memicu ancaman krisis energi dan fluktuasi harga komoditas di pasar internasional.
Ikuti DailyFX.ID
