DailyFX.ID — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali ditutup merosot pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Pelemahan ini menandai empat hari beruntun pelemahan harga, dengan sentimen utama yang menekan komoditas ini adalah anjloknya harga minyak dunia.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Oktober 2026 tercatat turun 49 Ringgit Malaysia menjadi 4.639 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 juga terpangkas 48 Ringgit Malaysia ke level 4.731 Ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan serupa turut dirasakan pada kontrak Desember 2026 yang turun 47 Ringgit Malaysia menjadi 4.810 Ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Januari 2027 yang jatuh 45 Ringgit Malaysia ke posisi 4.884 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 anjlok 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.952 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Maret 2027 terpangkas 28 Ringgit Malaysia menjadi 5.016 Ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan harga CPO terjadi setelah harga minyak mentah berbalik arah dan mengalami penurunan, yang semakin memperburuk sentimen pasar. Senior Analyst Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varga, menjelaskan bahwa harga CPO sempat menunjukkan penguatan di awal perdagangan berkat aksi bargain hunting dan kenaikan harga minyak mentah. Namun, sentimen pasar berubah negatif setelah harga minyak Brent berbalik arah dan turun hampir 2,8% menjadi sekitar US$ 98 per barel di perdagangan Asia.
“Harga CPO awalnya menguat karena aksi bargain hunting dan kenaikan harga minyak mentah. Namun, sentimen pasar memburuk setelah harga Brent turun,” ujar Sathia.
Tekanan jual CPO semakin menguat pasca munculnya laporan bahwa Iran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Kabar ini memicu harapan akan kembalinya negosiasi dan meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Sebagai informasi, harga minyak mentah Brent untuk kontrak November ditutup turun US$ 1,09 atau 1,09% menjadi US$ 99,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober yang berakhir pada Selasa melemah US$ 1,19 atau 1,24% menjadi US$ 94,99 per barel.
Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga CPO akan tetap bertahan di atas 4.700 Ringgit Malaysia per ton pada Oktober. Proyeksi ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun.
MPOC mengidentifikasi ketidakpastian cuaca dan kondisi pasar energi yang mendukung sebagai faktor penopang harga CPO. “Risiko penurunan utama adalah penurunan harga energi dan akumulasi stok lebih lanjut, karena produksi minyak sawit biasanya mencapai puncak musiman pada September atau Oktober,” kata MPOC.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak dunia dan perkembangan pasokan CPO akan terus menjadi indikator krusial yang menentukan arah perdagangan komoditas sawit dalam beberapa bulan mendatang.
Ikuti DailyFX.ID
