DailyFX.ID — Iran mulai membuka opsi persyaratan untuk mengakhiri perang tujuh bulan dan memulihkan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Negosiasi ini berlangsung di New York dengan fasilitasi mediator asal Qatar.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi syarat utama dari Iran, meliputi penghentian tindakan agresi militer Amerika Serikat (AS), pembukaan blokade angkatan laut, penghentian perang ekonomi, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan. Seorang pejabat senior Iran menambahkan bahwa lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz dapat dipulihkan dalam waktu satu minggu, asalkan AS mengendurkan tekanan militer dan mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Sebelum perang pecah, Selat Hormuz menjadi jalur vital yang melayani sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dan gas dunia.
Presiden AS Donald Trump menyatakan di Majelis Umum PBB bahwa dirinya dihadapkan pada pilihan antara menyepakati perjanjian diplomasi atau melancarkan aksi militer yang lebih merusak. Namun, di luar mimbar utama, Trump mengungkapkan kepada media bahwa pertemuan berdurasi tiga jam bersama delegasi Iran berjalan dengan baik. Ia memprediksi kesepakatan damai kemungkinan baru terwujud setelah Pemilihan Umum Sela AS pada November 2026, karena Iran masih menanti hasil perolehan suara sebelum mengambil keputusan akhir.
Data dari lembaga riset intelijen komoditas Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran yang melintasi Selat Hormuz saat ini masih jauh dari kapasitas normal. Rata-rata lalu lintas pengiriman minyak yang terkonfirmasi hanya mencapai 6,98 juta barel per hari, atau sekitar 38 persen dari tingkat baseline sebelum perang yang mencapai 18,3 juta barel per hari. Blokade angkatan laut yang diterapkan AS juga menyebabkan ekspor minyak mentah Iran terhenti total.
Pengapalan minyak mentah Iran merosot ke angka nol pada September 2026, berbanding terbalik dari posisi 893 ribu barel per hari pada Juli 2026. Kpler mencatat, Selat Hormuz kini lebih banyak dimanfaatkan oleh Arab Saudi sebagai koridor pengiriman alihan pascaserangan kelompok Houthi yang melumpuhkan pipa jalur Timur-Barat menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Munculnya sinyal-sinyal diplomasi ini langsung direspons oleh pasar keuangan global dengan penurunan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah berjangka jenis Brent mengalami penurunan 0,9% menjadi US$ 98,37 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate turun 1,5% ke posisi US$ 89,16 per barel.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik penyempitan jalur maritim (chokepoint) paling krusial di dunia yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Konflik bersenjata yang melibatkannya secara langsung berpotensi memicu krisis energi global dan disrupsi rantai pasok dalam skala besar. Eskalasi militer yang berujung pada penutupan sebagian Selat Hormuz ini dipicu oleh ketegangan yang memuncak antara AS dan Iran selama tujuh bulan terakhir, yang diawali oleh kegagalan kesepakatan damai sementara pada Juli 2026.
Blokade laut dan sanksi ekonomi ketat yang diterapkan AS melumpuhkan pendapatan ekspor utama Iran, sementara tindakan balasan di jalur pelayaran mengancam keamanan lalu lintas kapal tanker internasional. Negosiasi yang dimediasi oleh Qatar ini menjadi titik balik penting dalam meredakan potensi krisis ekonomi global menjelang konstelasi politik Pemilu Sela di Amerika Serikat.
Ikuti DailyFX.ID
