DailyFX.ID — Harga emas menunjukkan pemulihan signifikan sebesar 9% pada Agustus 2026, mencapai kisaran $4.400 per troy ounce. Kenaikan ini mencerminkan minat kuat dari institusi besar dan bank sentral terhadap logam mulia, yang memungkinkan emas berada dalam posisi yang lebih baik untuk melanjutkan tren positifnya pasca meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Analis independen, Ross Norman, menyatakan bahwa “rasanya seolah-olah ‘rem tangan’ yang selama ini menahan pergerakan emas akhirnya telah dilepaskan.” Harga emas berhasil menembus dua level resistensi utama bulan ini, didukung oleh penurunan harga minyak dan data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah. Kondisi ini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga di masa mendatang.
James Steel, kepala analis logam mulia di HSBC, berpendapat bahwa jika harga minyak tidak kembali menjadi perhatian utama dan situasi di Timur Tengah tidak memanas hingga memicu lonjakan harga minyak, maka arah pergerakan emas yang paling mungkin adalah kenaikan. Ia menambahkan bahwa pemulihan harga emas yang kuat selama dua minggu terakhir mengindikasikan adanya aktivitas dari bank sentral atau dana kekayaan negara (sovereign wealth funds), meskipun pandangan ini bersifat analisis dan belum terkonfirmasi.
Faktor pendukung lainnya dipercaya berasal dari permintaan institusional terhadap emas batangan berukuran besar. Besaran premi di pusat perdagangan Asia, termasuk China, mengindikasikan bangkitnya kembali minat beli. Steel berpendapat, “Menurut saya, ini sebenarnya merupakan upaya institusi besar untuk membangun kembali posisi kepemilikan emas yang mereka miliki sebelum konflik di Iran terjadi.”
Meskipun demikian, potensi kenaikan harga emas masih menghadapi beberapa batasan. Antara lain, macetnya perundingan damai AS-Iran, permintaan emas perhiasan dan koin yang lemah, serta arus dana masuk ke ETF berbasis emas yang sensitif terhadap suku bunga. Berdasarkan catatan World Gold Council, ETF emas hanya menambah US$7 miliar ke dalam total aset kelolaan sebesar US$582 miliar selama paruh pertama bulan Agustus 2026.
Selain itu, sinyal teknikal juga menjadi faktor penghambat. Relative Strength Index (RSI) mengindikasikan bahwa harga emas mendekati level jenuh beli (overbought) untuk jangka pendek. Hal ini menempatkan rata-rata pergerakan 200 hari, yang saat ini berada di level US$4.504, sebagai tingkat resistansi yang kuat.
Ikuti DailyFX.ID
