DailyFX.ID — Harga emas terpantau melesat dan sempat menembus level US$ 4.400 per ons troi pada perdagangan Rabu (12/8/2026) pagi. Penguatan logam mulia ini terjadi di tengah penantian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) yang diprediksi menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pada saat berita ditulis, harga emas tercatat naik 0,79% menjadi US$ 4.402,6 per ons troi. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga menguat 0,43% ke level US$ 4.460,51 per ons troi.
Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (11/8/2026), emas sempat menyentuh US$ 4.434,84 per ons troi, level tertinggi sejak 5 Juni. Namun, harga kemudian menghadapi resistance teknikal di sekitar rata-rata pergerakan 100 hari atau 100-day moving average yang berada di sekitar US$ 4.387,92 per ons troi.
Emas akhirnya ditutup melemah pada Selasa, menandai penurunan kedua sepanjang Agustus. Meski demikian, logam mulia kembali mendapatkan momentum pada perdagangan Rabu dan bergerak stabil di atas level psikologis US$ 4.400 per ons troi.
Pelaku pasar kini sangat menanti data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli yang akan dirilis pada Rabu. Data ini menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Sebelumnya, pasar telah memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September setelah data ketenagakerjaan AS yang dilaporkan lebih lemah dari perkiraan. Namun, kenaikan harga minyak akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Harga minyak dilaporkan naik setelah keraguan terhadap kesepakatan damai AS-Iran meningkat. Insiden serangan terhadap dua kapal di wilayah tersebut juga menambah kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang secara umum mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, apabila data CPI menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali berkurang. Kondisi ini berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan penguatannya.
Emas Masih Didukung Momentum
Penguatan emas dalam beberapa sesi terakhir menunjukkan momentum bullish yang cukup kuat. Sebelumnya, emas telah melonjak ke level tertinggi sejak 5 Juni setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan yang tidak terduga.
Emas mencapai US$ 4.376,56 per ons troi pada Senin (10/8), naik 0,8% dan mencatat level tertinggi dalam sembilan pekan. Kenaikan ini turut didukung oleh pembelian emas oleh China dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
Bank sentral China juga dilaporkan meningkatkan pembelian emas pada Juli. Data resmi menunjukkan cadangan emas China bertambah paling besar sejak Oktober 2023.
Dengan emas kini kembali berada di atas US$ 4.400, pasar akan mencermati apakah level tersebut mampu dipertahankan setelah data CPI AS dirilis. Jika inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, emas berpotensi mendapatkan tambahan dorongan karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali menurun. Namun, apabila inflasi lebih tinggi, tekanan terhadap emas dapat meningkat karena pasar berpotensi kembali memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,48% menjadi US$ 65,02 per ons, tetapi masih berada di bawah level tertinggi sejak 22 Juni yang dicapai pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, platinum menguat 0,43% menjadi US$ 1.749 per ons, sedangkan palladium justru turun 0,1% menjadi US$ 1.369,02 per ons.
Perhatian pasar terhadap logam mulia juga meningkat seiring perkembangan pasar bullion global. Regulator pasar India mengusulkan perluasan aturan yang saat ini berlaku bagi pengelola penyimpanan emas untuk mencakup seluruh bullion fisik yang menjadi dasar produk yang diatur Securities and Exchange Board of India (SEBI). Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat pengawasan terhadap pasar bullion digital India.
Sementara itu, CME Group menyatakan akan membuka perdagangan kontrak futures perak 100 ons secara 24 jam mulai September.
Ikuti DailyFX.ID
