DailyFX.ID — Pakar memprediksi harga emas perlu bertahan di sekitar US$ 4.300 per troy ounce untuk melanjutkan tren kenaikan. Prediksi ini muncul setelah harga emas spot gagal mempertahankan posisinya di atas US$ 4.400 pada perdagangan Selasa (11/8/2026), bahkan mengalami penurunan 0,5% menjadi US$ 4.368,15 per troy ounce.
Kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, menjelaskan bahwa agar reli yang terjadi belakangan ini dapat berlanjut, harga emas perlu stabil di kisaran US$ 4.360 hingga US$ 4.370 per troy ounce. Level ini sebelumnya sempat menjadi puncak harga pada bulan Juni lalu.
Hansen menambahkan, jika level tersebut tidak dapat dipertahankan, konsolidasi harga emas dapat diperkirakan terjadi. Hal ini disebabkan oleh tekanan dari pergerakan harga minyak, imbal hasil obligasi, dan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Lebih lanjut, Hansen menyebutkan bahwa untuk prospek jangka panjang, para pelaku pasar ingin melihat harga emas kembali menembus di atas rata-rata pergerakannya selama 200 hari (200-day moving average) sebelum memutuskan untuk kembali masuk ke pasar komoditas ini.
Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada hari Selasa. Lonjakan ini terjadi seiring para pedagang mencermati tanda-tanda kemajuan menuju kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, kenaikan harga minyak yang terjadi menarik harga emas turun dari puncaknya. Penurunan ini terjadi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan sangat menentukan sikap Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga.
Sebagai catatan, harga emas kontrak bulan Desember di bursa Comex sempat menyentuh US$ 4.495,00 per troy ounce, yang merupakan kenaikan 1,7% dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni 2026. Namun, harga tersebut akhirnya turun ke posisi US$ 4.440 pada penutupan perdagangan Selasa (11/8/2026).
Ikuti DailyFX.ID
