DailyFX.ID — Harga emas mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (20/8/2026), sehari setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Investor memilih melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah harga logam mulia tersebut melonjak lebih dari 4% pada hari sebelumnya.
Koreksi ini terjadi setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan langkah tak terduga untuk memperkuat likuiditas pasar obligasi pemerintah AS berjangka panjang. Kebijakan tersebut menekan imbal hasil (yield) obligasi dan melemahkan dolar AS, yang sebelumnya menjadi pendorong kenaikan harga emas.
Saat berita ini ditulis, harga emas turun 0,58% menjadi US$ 4.496,6 per ons troi. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 4.525,79 per ons troi, level tertinggi sejak Mei 2026. Sementara itu, harga emas berjangka AS justru terpantau naik 0,19% menjadi US$ 4.553,79 per ons troi.
Menurut laporan Reuters, Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8/2026) mengumumkan akan menggandakan nilai operasi pembelian kembali (buyback) untuk surat utang Treasury berjangka panjang. Pengumuman ini datang setelah terjadi aksi jual besar-besaran di pasar obligasi AS. Investor sebelumnya menuntut imbal hasil yang lebih tinggi seiring meningkatnya risiko inflasi yang dipicu oleh konflik AS-Israel melawan Iran.
Dolar AS sendiri masih tertahan di dekat level terendah dalam tiga bulan, yang turut membantu menopang harga emas.
Analis global makro Tastylive, Ilya Spivak, menyatakan bahwa kenaikan harga emas yang sangat tajam sebelumnya membuat pasar membutuhkan waktu untuk melakukan konsolidasi. “Jelas ada reli besar pada emas, dan pasar akan membutuhkan waktu untuk mencerna kenaikan tersebut setelah pergerakan sebesar itu,” ujar Spivak.
Ia menambahkan, rentang harga US$ 4.400 – 4.500 per ons troi telah berhasil ditembus. Jika harga emas mampu bertahan di atas kisaran tersebut, momentum kenaikan masih berpeluang untuk berlanjut.
Utang AS Tembus US$ 40 Triliun
Di sisi lain, total utang pemerintah AS yang beredar telah menembus rekor US$ 40 triliun untuk pertama kalinya. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran mengenai stabilitas fiskal AS dan potensi krisis keuangan.
Analis Marex, Edward Meir, menilai meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan akibat tingginya utang dan keterbatasan pemerintah dalam memangkas belanja menjadi sentimen positif bagi emas. “Kekhawatiran yang meningkat terhadap stabilitas keuangan pasar, utang, dan ketidakmampuan memangkas belanja fiskal sangat bullish bagi emas,” ujar Meir.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap inflasi juga mengemuka dalam risalah rapat The Fed bulan lalu yang dirilis Rabu. Dokumen tersebut menunjukkan beberapa pejabat The Fed menyatakan kesiapan untuk menaikkan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada September sebesar 67%, sementara peluang kenaikan suku bunga mencapai 33%.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,18% menjadi US$ 67,13 per ons. Harga platinum tercatat turun 0,81% menjadi US$ 1.807,19 per ons, sedangkan paladium melemah tipis 0,05% menjadi US$ 1.328,06 per ons troi.
Ikuti DailyFX.ID
