— Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan secara rahasia membantu kapal-kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil untuk menjaga kelancaran pasokan energi dunia, seperti diungkap oleh dua pejabat AS kepada media Axios pada Kamis (20/8/2026).

Operasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan tersebut bertujuan mengawal pergerakan hingga 20 kapal tanker yang masuk dan keluar Teluk Persia. Kapal-kapal ini diarahkan melalui jalur aman di sepanjang wilayah pesisir Oman. Melalui skema pengawalan rahasia ini, diperkirakan sekitar 10 juta barel minyak berhasil diangkut setiap harinya melewati jalur perairan yang sangat strategis tersebut.

Meskipun volume arus energi yang keluar dari Selat Hormuz saat ini baru mencapai sekitar separuh dari kapasitas sebelum perang, skema pengawalan ini memberikan dampak signifikan dalam menjaga kestabilan pasokan energi ke pasar global. Operasi pengawalan ini diawasi langsung oleh Markas Besar Angkatan Darat AS di Fort Bragg, North Carolina, bekerja sama dengan mitra-mitra militer AS di kawasan Teluk.

Dalam skema tersebut, tim gabungan menyusun daftar harian kapal tanker yang akan keluar menuju Laut Arab, serta kapal-kapal tanker kosong yang disewa untuk memasuki kawasan Teluk dari arah laut. Kapal-kapal komersial ini kemudian dijadwalkan berlayar pada malam hari sesuai dengan waktu dan rute aman yang telah ditentukan.

Upaya pengawalan rahasia ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang kembali memanas antara AS dan Iran. Situasi memburuk ketika Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan kesepakatan gencatan senjata tidak lagi berlaku pada 8 Juli 2026, setelah sebelumnya kedua pihak sempat menandatangani kesepakatan penanganan konflik pada 18 Juni 2026. Sejak saat itu, pasukan AS melancarkan serangkaian serangan udara dan maritim terhadap target-target di Iran.

Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan tindakan militer tersebut merupakan balasan atas gangguan dan ancaman Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, pasukan militer Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Situasi mencapai puncaknya pada 12 Juli 2026 ketika Iran mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz sampai AS menghentikan campur tangan militernya di kawasan tersebut. Menanggapi pengumuman Iran, sehari berselang Presiden Trump menegaskan AS akan bertindak sebagai “penjaga” Selat Hormuz sekaligus memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia, yang menghubungkan para produsen minyak utama di Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Iran, dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Dalam kondisi normal, sekitar 20 hingga 21 juta barel minyak mentah dan produk olahannya melintasi selat sempit ini setiap hari, yang setara dengan hampir 20% dari total konsumsi minyak dunia.

Akibat posisi geografisnya yang amat sempit, dengan lebar jalur pelayaran hanya sekitar beberapa mil laut di titik tergentingnya, Selat Hormuz sangat rentan terhadap gangguan militer, pemblokiran, maupun aksi sabotase. Penutupan atau gangguan pada jalur ini secara historis selalu memicu lonjakan harga minyak mentah secara drastis serta mengancam stabilitas ekonomi global. Langkah militer AS untuk mengawal kapal komersial secara diam-diam mencerminkan dilema strategi AS, di mana negara itu berusaha menjaga arus energi global tetap berjalan tanpa memicu konfrontasi militer terbuka yang lebih luas dengan Iran di jalur perairan internasional tersebut.