DailyFX.ID — Harga emas dunia diprediksi melanjutkan pelemahannya hingga mencapai US$ 4.000 per ons troi pada pekan ini. Keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu (16/9/2026) menjadi salah satu faktor krusial yang akan menentukan arah pergerakan harga logam mulia. Tekanan terhadap emas juga datang dari inflasi Amerika Serikat (AS) yang tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026), harga emas tercatat menguat tipis 0,75% ke level US$ 4.348,93 per ons troi. Namun, momentum kenaikan emas yang sempat menguat tajam pada Agustus lalu kini mulai memudar.
Market Analyst Forex.com, Fawad Razaqzada, mempertahankan pandangan bearish atau pesimis terhadap prospek harga emas dalam jangka pendek. Dalam analisis mingguan terbarunya, Razaqzada mencatat bahwa harga emas turun 1,8% sepanjang pekan lalu, memperpanjang tren penurunan menjadi tiga pekan berturut-turut.
Meskipun sempat berbalik menguat pada Jumat setelah merespons data inflasi AS yang dirilis, logam mulia itu kembali kehilangan momentum menjelang penutupan perdagangan. “Dari sisi teknikal, harga emas berpotensi mengalami pelemahan moderat sebelum keputusan The Fed,” tulis Razaqzada dalam risetnya pada Senin (14/9/2026).
Keputusan The Fed menjadi perhatian utama pasar. Hal ini terutama dipicu oleh data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan dan peringatan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai risiko inflasi yang bertahan di atas target terlalu lama. Pasar saat ini mencermati apakah kenaikan suku bunga akan bersifat tunggal atau diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter lanjutan di tahun ini.
Tekanan tambahan terhadap emas juga berasal dari kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Meskipun sempat terkoreksi pada Jumat, tren kenaikan harga minyak secara keseluruhan berpotensi menambah tekanan inflasi. “Jika inflasi terus meningkat, The Fed memiliki alasan untuk tidak menutup kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” tambah Razaqzada.
Level Kunci Harga Emas
Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury terus menunjukkan tren peningkatan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka 10 tahun bahkan mendekati level psikologis 5% pada pekan lalu. Kenaikan imbal hasil riil dan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Kondisi ini semakin menekan harga emas, terutama jika dolar AS tetap mendapat dukungan.
Secara teknikal, Razaqzada menilai kecenderungan harga emas masih bearish. Area US$ 4.400 per ons troi menjadi resistance penting yang kembali menahan penguatan emas pada Jumat. “Level tersebut telah beberapa kali diuji dalam beberapa hari terakhir, tetapi belum berhasil ditembus secara meyakinkan,” paparnya.
Jika tekanan jual terus berlanjut, harga emas berpotensi kembali menuju US$ 4.100 per ons troi, terutama di sekitar pengumuman keputusan The Fed. Apabila level tersebut berhasil ditembus, harga emas berisiko melanjutkan penurunannya menuju US$ 4.000 per ons troi. “Di bawah level tersebut, titik terendah Juni di sekitar US$ 3.942 per ons troi menjadi area berikutnya yang perlu diperhatikan,” jelas Razaqzada.
Meskipun demikian, Razaqzada tidak menutup kemungkinan terjadinya pembalikan arah harga. Jika tren pelemahan dolar AS atau dollar debasement trade kembali muncul, harga emas berpeluang menembus resistance US$ 4.400 per ons troi. “Dalam skenario tersebut, target kenaikan berikutnya berada di sekitar US$ 4.500 per ons troi. Selanjutnya, rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$ 4.538 per ons troi dan resistance US$ 4.600 per ons troi menjadi level yang perlu dicermati,” tutup Razaqzada.
Ikuti DailyFX.ID
