DailyFX.ID — JAKARTA – Lonjakan risiko inflasi global menekan bank sentral negara-negara Group of Seven (G7) untuk segera menaikkan suku bunga acuan. Tiga keputusan besar dari bank sentral utama dunia, yaitu The Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat, Bank of England (BoE) di Inggris, dan Bank of Japan (BoJ) di Jepang, diperkirakan akan membentuk ulang lanskap kebijakan moneter global hingga akhir 2026.
Pasar keuangan global menyoroti Amerika Serikat setelah data inflasi inti mencatatkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat spekulasi investor bahwa Ketua The Fed, Kevin Warsh, bersama para pejabat bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Langkah tegas ini berpotensi diambil di tengah tekanan politik dari Presiden Donald Trump. Warsh sebelumnya menegaskan bahwa The Fed memiliki tugas berat jika inflasi dasar belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ke level target secara meyakinkan dan cepat. Data ekonomi terbaru semakin mempersempit ruang bagi The Fed untuk menunda pengetatan moneter.
Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) diproyeksikan secara luas akan menaikkan suku bunga acuan pada akhir pekan menjadi 1,25%, tingkat suku bunga tertinggi sejak 1995. Keputusan ini didukung oleh pertumbuhan upah tenaga kerja yang mencatat lonjakan tertinggi dalam hampir tiga dekade, sekaligus memberikan sentimen positif bagi mata uang yen.
Kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) diprediksi belum akan terjadi dalam pertemuan pekan ini, namun risiko inflasi yang terus membayangi membuka peluang pergeseran kebijakan ke arah pengetatan pada November 2026. European Central Bank (ECB) telah lebih dulu mengambil langkah pengetatan menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor memperkirakan kebijakan hawkish yang terkoordinasi di antara negara G7 akan terlihat semakin jelas pada akhir pekan ini.
Faktor pemicu tekanan ekonomi global adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus angka di atas US$100 per barel, dipadukan dengan kembali memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini menutup harapan para pembuat kebijakan akan meredanya tekanan harga dalam waktu dekat.
Perkembangan ekonomi di kawasan lain menunjukkan dinamika yang beragam. Di China, rilis data industri dan konsumsi Agustus menunjukkan pemulihan yang masih terbatas. Walaupun produksi dan ekspor teknologi terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence) tumbuh pesat, sektor ekonomi lainnya masih mengalami perlambatan.
Di Amerika Latin, bank sentral Brasil diperkirakan akan melanjutkan pemangkasan suku bunga Selic sebesar 25 basis poin menjadi 13,75% untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang melambat selama tiga tahun berturut-turut. Sementara itu, Chili memangkas proyeksi pertumbuhan PDB tahun 2026 menjadi rentang 0,25% hingga 0,75%.
Dinamika kebijakan moneter global sepanjang tahun 2026 sangat dipengaruhi oleh kombinasi gangguan rantai pasok energi global dan ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang melampaui US$100 per barel memicu efek domino terhadap biaya logistik dan harga barang konsumsi di berbagai negara maju maupun berkembang.
Kondisi ini memaksa bank-bank sentral G7 menghentikan fase kelonggaran moneter lebih cepat dari perkiraan semula. Pengetatan suku bunga diambil guna mencegah terjadinya ekspektasi inflasi yang liar (anchored inflation expectations), meskipun langkah tersebut berisiko menekan laju pertumbuhan ekonomi domestik serta menimbulkan gesekan antara otoritas moneter independen dan pemerintah di masing-masing negara.
Ikuti DailyFX.ID
