DailyFX.ID — PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), sebuah perusahaan yang bergerak di sektor data center dan memiliki afiliasi dengan pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, sedang menjalani transformasi bisnis signifikan. Fokus perusahaan kini diarahkan pada pengembangan data center yang didukung oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Perubahan strategi ini merupakan hasil dari serangkaian aksi korporasi yang dilakukan setelah pengendali baru mengambil alih arah bisnis perseroan. BRI Danareksa Sekuritas memandang MGLV memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri data center, terutama dengan rencana pengembangan kapasitas yang ambisius hingga 900 megawatt (MW).
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, mengidentifikasi peningkatan kapasitas serta pembangunan fasilitas Zankore Indosat (ISAT) sebagai faktor krusial dalam mewujudkan potensi tersebut. Transformasi MGLV dimulai dengan pelepasan 13 anak usaha lama senilai Rp 121,5 miliar. Selanjutnya, perseroan mengakuisisi dua aset data center dari NDC, yaitu PT Nextier Askara Center (NAC) di Jababeka dan PT Nextier GenAi Center (NGC) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.
Selain mengambil alih aset, MGLV juga mengakuisisi piutang NDC terhadap kedua perusahaan tersebut dengan total nilai Rp 668,6 miliar. Untuk mendukung ekspansi yang masif ini, perseroan telah memperoleh pinjaman dari pemegang saham senilai hingga Rp 4 triliun. Selain itu, MGLV juga melakukan aksi rights issue dengan harga Rp 8.880 per saham dalam rasio 100:15, yang berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 2,54 triliun.
Sekitar 27% dari dana hasil rights issue dialokasikan untuk menyelesaikan kewajiban piutang kepada NDC. Sisa dana tersebut kemudian digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) dalam pembangunan data center.
“MGLV menargetkan kapasitas data center mencapai 102 MW pada kuartal II-2027. NAC di Jababeka, yang saat ini telah beroperasi dengan kapasitas awal 6 MW, ditargetkan meningkat menjadi 42 MW. Sementara itu, NGC di Industropolis Batang ditargetkan mencapai kapasitas 60 MW,” tulis Kafi dan Erindra dalam riset mereka, dikutip pada Kamis (17/9/2026).
Untuk mengatasi potensi keterbatasan pasokan listrik dari PLN, MGLV juga akan membangun gardu induk mandiri berkapasitas 200 megavolt ampere (MVA) di masing-masing lokasi. Perkiraan kebutuhan belanja modal untuk pengembangan ini diproyeksikan di bawah US$ 10 juta per MW.
Di lokasi Batang, Zankore, yang merupakan perusahaan joint venture (JV) layanan neocloud dari PT Indosat Tbk (ISAT), akan menjadi penyewa utama. Kapasitas data center di sana berpotensi dikembangkan lebih lanjut hingga mencapai 900 MW. Zankore sendiri diluncurkan pada 6 Agustus 2026 melalui kolaborasi strategis antara Ooredoo Group, Indosat Ooredoo Hutchison, Nvidia, dan Nokia.
Berdasarkan kajian BRI Danareksa Sekuritas, valuasi MGLV dianalisis menggunakan tiga skenario discounted cash flow (DCF). Dalam skenario dengan kapasitas 102 MW, nilai ekuitas MGLV diperkirakan mencapai Rp 4,9 triliun. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi Rp 42,8 triliun apabila kapasitas mencapai 400 MW pada tahun 2029. Sementara itu, skenario pengembangan kapasitas hingga 900 MW pada tahun 2031 menghasilkan estimasi nilai ekuitas sebesar Rp 106 triliun. Keberhasilan realisasi potensi ini sangat bergantung pada kecepatan pembangunan dan operasional Zankore sebagai penyewa utama data center MGLV.
Ikuti DailyFX.ID
