— Indeks-indeks saham Wall Street menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (17/9/2026), berbalik arah setelah sempat tertekan oleh keputusan suku bunga The Fed sehari sebelumnya. Sektor teknologi tampil sebagai primadona, mendorong indeks Nasdaq Composite melonjak tinggi seiring dengan penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan harga minyak dunia.

Menurut laporan CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan 316,14 poin atau 0,61% menjadi 51.778,04. Indeks S&P 500 menguat 1,14% ke angka 7.637,76, sementara Nasdaq Composite melesat 1,69% mencapai 26.418,30.

Saham Teknologi Jadi Motor Penggerak

Sektor teknologi menjadi lokomotif utama penguatan pasar saham. Saham Nvidia dan Amazon masing-masing membukukan kenaikan lebih dari 2%, sementara Microsoft menguat 1,5%. Perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI) juga menunjukkan performa positif. Qualcomm naik 2%, dan Intel melonjak 7%.

Penguatan bursa saham AS juga didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun terpantau turun lebih dari 7 basis poin, kembali berada di bawah level 5% menjadi 4,93%.

Penurunan ini terjadi sehari setelah imbal hasil obligasi AS tenor yang sama sempat menembus kembali level 5% pasca pengumuman keputusan suku bunga oleh The Fed.

Harga Minyak Turun, Meredakan Kekhawatiran Pasokan

Melemahnya harga minyak dunia juga memberikan ruang bagi pasar saham untuk bangkit. Harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), ditutup turun 0,51% menjadi US$ 101,91 per barel. Minyak Brent juga mengalami penurunan 0,95% menjadi US$ 104,82 per barel.

Penurunan harga minyak ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan. Laporan menyebutkan bahwa Arab Saudi memutuskan untuk menyediakan kargo minyak mentah tambahan bagi para penyuling di Asia melalui transfer antarkapal di dekat Pelabuhan Sohar, Oman.

Reaksi Pasar Pasca Keputusan The Fed

Sebelumnya, Wall Street sempat tertekan pada perdagangan Rabu. The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dan mengindikasikan kemungkinan kenaikan lanjutan tahun ini.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa tingkat inflasi masih terlalu tinggi. Pernyataan ini menambah tekanan pada pasar, mengingat suku bunga yang tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan dan mengurangi daya tarik aset berisiko.

CEO The Wealth Alliance, Robert Conzo, menggambarkan reaksi pasar pada Kamis sebagai bentuk kelegaan investor. “Reaksi pasar bisa dirangkum dalam satu kata, yaitu lega,” ujar Conzo.

Menurut Conzo, investor melihat langkah The Fed sebagai upaya konkret untuk menangani persoalan inflasi yang masih sulit dikendalikan. Meskipun demikian, Conzo menilai pasar masih berpotensi menghadapi volatilitas tinggi, terutama bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

“Jika harga minyak tetap tinggi, inflasi akan terus berlanjut ke sektor ritel dan tertanam dalam harga yang dibayarkan oleh konsumen,” jelasnya.

Conzo menambahkan, semakin lama harga minyak bertahan pada level tinggi, semakin sulit pula tekanan inflasi untuk diredam. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperbesar tantangan bagi The Fed dalam upaya mengendalikan inflasi.