DailyFX.ID — Paparan abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari tetapi juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan sistem pernapasan. Partikel mikroskopis yang terhirup berisiko masuk ke dalam saluran napas hingga memicu berbagai gangguan paru-paru.
Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Ahmad Fikri Syadzali, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung material tajam seperti silika dan kaca vulkanik. Ketika partikel ini bersentuhan langsung dengan lapisan mukosa saluran pernapasan, reaksi peradangan dapat langsung terjadi.
“Material ini bisa mempengaruhi saluran napas. Ketika material ini kontak dengan mukosa saluran napas, dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi,” jelas Ahmad.
Dampak Ukuran Partikel Abu Vulkanik
Ahmad memaparkan bahwa dampak buruk paparan abu vulkanik bergantung pada beberapa faktor, meliputi ukuran partikel, komposisi mineral, konsentrasi abu di udara, serta durasi seseorang terpapar. Ukuran partikel menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa jauh material asing tersebut merusak organ pernapasan.
Partikel PM10 (kurang dari 10 mikrometer) mampu menembus saluran pernapasan bagian atas hingga mengendap di area bronkus. Sementara itu, partikel PM2,5 (kurang dari 2,5 mikrometer) berukuran sangat halus sehingga dapat menjangkau area terdalam paru-paru, yaitu bronkiolus dan alveolus, tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbondioksida.
“Semakin kecil partikelnya semakin dalam penetrasinya. Hal ini juga menyebabkan semakin sulit untuk dikeluarkan,” tuturnya.
Risiko Jangka Panjang dan Kelompok Rentan
Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik umumnya menyebabkan gejala akut seperti batuk, tenggorokan perih atau gatal, hidung tersumbat, penumpukan dahak, sesak napas, hingga suara mengi. Namun, paparan berulang atau dalam konsentrasi tinggi dapat memicu peradangan kronis yang merusak fungsi paru-paru secara permanen.
“Salah satu kandungan dari abu vulkanik adalah silika. Pada paparan jangka panjang atau inflamasi berulang dapat menyebabkan silikosis paru maupun kanker paru,” terangnya.
Beberapa kelompok masyarakat dikategorikan paling rentan dan membutuhkan perlindungan ekstra dari paparan abu vulkanik, di antaranya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu yang memiliki riwayat penyakit respirasi atau kardiovaskular.
Langkah Pencegahan dan Tanda Bahaya
Guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan, masyarakat di wilayah terdampak erupsi diimbau untuk mengambil langkah-langkah mitigasi. Batasi aktivitas di luar rumah dan selalu tutup pintu serta jendela untuk mengurangi infiltrasi udara kotor.
Gunakan masker respirator khusus seperti standar N95 jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, dan pakai kacamata pelindung untuk mengantisipasi iritasi pada mata. Hindari berkendara saat terjadi hujan abu lebat karena membahayakan jarak pandang dan keselamatan pernapasan.
Ahmad mengingatkan masyarakat untuk segera mengakses pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala bahaya pascapaparan abu vulkanik. Gejala tersebut meliputi sesak napas berat yang kian memburuk, penurunan saturasi oksigen di bawah 92%, atau munculnya warna kebiruan pada kulit dan bibir akibat kekurangan oksigen.
“Penanganan cepat dalam hal ini penting untuk mencegah kondisi pernapasan semakin buruk,” tegasnya.
Indonesia, yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), memiliki tingkat aktivitas vulkanik dan tektonik paling aktif di dunia. Keberadaan puluhan gunung berapi aktif membuat fenomena erupsi dan hujan abu menjadi ancaman bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Abu vulkanik merupakan material erupsi dengan daya jangkau paling luas karena mudah terbawa angin hingga ratusan kilometer dari pusat letusan. Minimnya pemahaman mengenai bahaya kandungan silika dan kaca vulkanik sering membuat masyarakat menganggap abu letusan seperti debu jalanan biasa. Edukasi medis secara berkala diperlukan agar warga terbiasa menggunakan alat pelindung diri standar seperti masker N95 saat bencana terjadi. Kesiapan posko kesehatan dan rumah sakit di sekitar kawasan rawan bencana vulkanik sangat penting untuk merespons lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta memberikan penanganan darurat bagi pasien kelompok rentan.
Ikuti DailyFX.ID
