DailyFX.ID — Tiga emiten telekomunikasi besar di Indonesia tengah melakukan pertaruhan strategis dengan membelanjakan modal dalam jumlah besar untuk mendukung transisi dari model bisnis konvensional menuju infrastruktur masa depan.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), melalui anak usahanya Telkomsel, telah merevisi panduan belanja modal terhadap pendapatan (capex-to-revenue/C2R) untuk tahun buku 2026. Panduan ini naik dari 11-12% menjadi 15%, dengan batas maksimal mencapai 17-19%. Penyesuaian ini sejalan dengan perolehan spektrum tambahan sebesar 100 MHz pada Juli 2026.
Perolehan spektrum baru ini menuntut biaya di muka sekitar Rp1,2 triliun dan biaya tahunan Rp800 miliar, menurut riset CGS International Sekuritas Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan modal yang masif ini, TLKM berupaya mempercepat penyelesaian divestasi aset non-inti, termasuk aset data center. Targetnya, tiga hingga empat aset tersebut tuntas dilepas pada tahun 2026.
Peningkatan biaya spektrum yang lebih besar dari proyeksi pendapatan bisnis legacy seperti panggilan suara dan SMS, ditambah penurunan pendapatan dari layanan digital, membuat CGS Sekuritas memangkas proyeksi EBITDA Telkom. Proyeksi EBITDA dipangkas 0,3-0,5% untuk tahun buku 2026 hingga 2028.
“Kami juga memangkas laba bersih inti Telkom pada 2027-2028 sebesar 1,4-1,6% untuk mencerminkan beban depresiasi dan amortisasi yang lebih tinggi sehubungan meningkatnya C2R 2026-2028 menjadi 15,4-17,3% dibandingkan sebelumnya 1,8-15,3%,” papar CGS Sekuritas dalam riset yang disusun analis Bob Setiadi.
PT XL Axiata Tbk (EXCL) juga masih dibebani biaya integrasi jaringan pasca-merger. Berdasarkan materi presentasi terbaru, EXCL mencatat biaya integrasi sebesar Rp51 miliar pada kuartal II-2026, meningkat dari Rp28 miliar pada kuartal I-2026. Total biaya integrasi jaringan yang dikeluarkan sepanjang semester I-2026 mencapai Rp79 miliar.
Biaya ini berangsur-angsur mengecil seiring percepatan realisasi sinergi. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, di mana perseroan menggelontorkan biaya integrasi mencapai Rp2,35 triliun sepanjang 2025.
Menurut Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi, skala bisnis EXCL yang membesar pasca-merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mulai membantu menutupi sebagian biaya integrasi. Namun, ia menilai hal ini merupakan pola wajar dalam merger dan akuisisi, di mana penghematan biaya biasanya memakan waktu lebih lama untuk tercermin pada laba bersih positif.
Hingga paruh pertama 2026, EXCL masih mencetak kerugian bersih sebesar Rp994 miliar, menurun 22,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan meningkat 26% menjadi Rp24,03 triliun.
Wafi memperkirakan kenaikan pendapatan EXCL pada semester I-2026 didorong oleh konsolidasi merger dengan FREN, bukan pertumbuhan organik. Menyempitnya kerugian menunjukkan bahwa operating leverage mulai membaik. “Jika pola perbaikan kerugian ini konsisten, ada kemungkinan realistis EXCL mendekati breakeven dalam beberapa kuartal ke depan. Tapi, masih perlu konfirmasi lebih lanjut,” ungkap Wafi.
Tambahan spektrum yang dimiliki EXCL (32,6% pangsa pasar) dinilai penting untuk menstabilkan kualitas jaringan pasca-merger dan retensi pelanggan. Hal ini juga penting mengingat risiko putusan Mahkamah Konstitusi terkait kuota yang tidak boleh hangus, yang lebih berisiko bagi EXCL karena basis pelanggan prabayar yang lebih besar.
“Jadi, tren perbaikan EXCL di semester I-2026 merupakan sinyal positif sebagai narasi turnaround EXCL dalam jangka panjang. Tapi turnaround ini perlu dibuktikan secara konsisten dalam 2-3 kuartal ke depan. Jadi, ini masih turnaround spekulatif,” bebernya.
PT Indosat Tbk (ISAT) juga menjadi sorotan terkait kebutuhan modal. Perseroan diperkirakan memerlukan modal awal US$5,5 hingga US$6 miliar untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) atau komputasi sebesar 200 MW melalui Zankore, perusahaan kolaborasi Ooredoo, Nokia, dan NVIDIA.
Angka tersebut didapat dengan mengacu pada anggaran belanja modal ISAT sebesar US$650 juta untuk kapasitas 22 MW dari infrastruktur komputasi. “Hal ini memunculkan pertanyaan bagaimana komitmen ekuitas awal Zankore senilai sekitar US$1,6 miliar akan dibiayai — dengan asumsi rasio utang terhadap ekuitas sebesar 2,4-4,2x. Artinya, ISAT kemungkinan perlu menambah utang dan/atau menjual piutang neocloud yang telah dikontrak untuk diinvestasikan ke Zankore,” tulis JP Morgan.
Meskipun demikian, JP Morgan menyematkan peringkat overweight kepada ISAT dengan target harga Rp3.200. Target harga ini menawarkan potensi kenaikan hingga 30,08% jika dibandingkan dengan harga saham ISAT pada penutupan perdagangan Rabu (12/8/2026) di Rp2.460.
Ikuti DailyFX.ID
