— Belanja modal untuk sektor kecerdasan buatan (AI) terus menunjukkan lonjakan signifikan. Lembaga investasi global Morgan Stanley memproyeksikan total investasi infrastruktur AI global dapat mencapai US$ 1,4 triliun atau sekitar Rp 22.000 triliun pada 2027, melampaui konsensus pasar saat ini yang berada di angka US$ 1,2 triliun.

Analis Morgan Stanley Erik Woodring menyoroti empat raksasa teknologi, yakni Amazon, Microsoft, Alphabet, dan Meta Platforms, secara konsisten melaporkan keterbatasan kapasitas industri. Tingginya permintaan layanan komputasi awan (cloud computing) yang melampaui kapasitas yang ada mendorong perusahaan-perusahaan teknologi ini untuk menaikkan anggaran belanja modal mereka secara masif.

Tiga Saham Teknologi Unggulan di Era AI

Di tengah lonjakan investasi ini, terdapat tiga saham teknologi utama yang dinilai berpotensi meraih keuntungan besar dari ekspansi pusat data dan infrastruktur AI:

1. Nvidia

Nvidia tetap menjadi pemimpin pasar utama dalam pembangunan infrastruktur AI. Perusahaan ini mendominasi pasar pelatihan model AI (AI model training) lewat unit pemrosesan grafis (GPU) dan platform perangkat lunak CUDA. Selain itu, Nvidia memperkuat posisinya di segmen inference melalui akuisisi Groq dan pengembangan unit pemrosesan bahasa (LPU) untuk mengurangi latensi. Saham Nvidia dinilai sangat menarik dengan forward P/E sekitar 17 kali untuk estimasi tahun fiskal 2028.

2. Advanced Micro Devices (AMD)

Meski bukan pemain utama dalam pelatihan model, AMD berpeluang merebut pangsa pasar signifikan di sektor inference yang pertumbuhannya kian pesat. Desain chiplet milik AMD memungkinkan integrasi memori yang lebih besar. AMD juga memimpin di pasar CPU pusat data. Seiring maraknya tren agentic AI, kebutuhan akan rasio CPU terhadap GPU diperkirakan terus meningkat. AMD memroyeksikan potensi pasar ini mencapai US$ 220 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

3. Micron Technology

Tingkat permintaan terhadap memori berkecepatan tinggi (High-Bandwidth Memory/HBM) dan DRAM mengalami lonjakan drastis hingga menciptakan kelangkaan kapasitas di tingkat global, yang mendorong kenaikan harga memori secara signifikan. Micron menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari lonjakan belanja AI ini. Dengan forward P/E di bawah enam kali untuk estimasi tahun fiskal 2027, saham Micron dinilai masih sangat murah (undervalued).

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (generative AI dan agentic AI) telah memicu transformasi besar-besaran pada ekosistem pusat data global sejak 2023. Kebutuhan akan daya komputasi skala besar mendesak perusahaan teknologi global untuk melakukan investasi masif pada komponen keras (hardware), mulai dari prosesor grafis, chip pemroses khusus, hingga modul memori berkecepatan tinggi.

Persaingan antarraksasa teknologi dalam mengamankan pasokan komponen semikonduktor menjadikan sektor ini sebagai penggerak utama pertumbuhan pasar saham global. Kendati sempat dibayangi kekhawatiran siklus ekonomi dan ketegangan rantai pasok global, tingginya permintaan komputasi awan dan AI terus mendorong valuasi saham-saham semikonduktor ke level yang lebih tinggi.