— Para pekebun sawit di berbagai sentra produksi terus digalakkan untuk meningkatkan produktivitas tandan buah segar (TBS) tanpa harus melakukan perluasan lahan. Upaya ini sangat krusial mengingat potensi peningkatan produktivitas dari kebun sawit rakyat masih sangat tinggi, cukup dengan mengoptimalkan kegiatan budi daya hingga proses panen yang tepat.

Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Idum Satia Santi, menekankan bahwa peningkatan produktivitas sawit tidak melulu harus dikejar melalui pembukaan lahan baru. Ia menjelaskan, potensi kebun yang sudah ada dapat dimaksimalkan dengan pengelolaan lahan dan tanaman yang lebih baik. “Ketika kita naik kelas, produksinya meningkat. Produksi yang meningkat artinya penghasilan kita bertambah. Maka, salah satu jargon kita adalah Sawit Cuan,” ujarnya.

Idum mencontohkan, proses cepat dalam membawa TBS ke pabrik setelah dipanen dapat menghasilkan rendemen dan kualitas sawit yang lebih baik. “Ketika kita memelihara sawit, golnya apa? TBS. Ketika dipanen, juga harus cepat dibawa ke pabrik, memanen pun harus tepat,” jelasnya dalam keterangan yang diterima, Senin (21/09/2026).

Oleh karena itu, pelatihan teknis budi daya sawit bagi para pekebun terus digencarkan. Salah satu program yang diselenggarakan adalah Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budi Daya Kelapa Sawit oleh AKPY, yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian.

Pelatihan yang berlangsung pada 15-20 September 2026 di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, ini diikuti oleh 186 peserta yang merupakan pekebun dari Kabupaten Banggai. “Prinsipnya adalah menaikkan produktivitas, bukan memperluas lahan, sehingga kompetensi pekebun, termasuk dari 186 dari Banggai, dapat diperkuat,” tutur Idum.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Banggai, Dewi Wahyuni Mang, menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) memang menjadi salah satu faktor kunci dalam peningkatan produktivitas sawit. “Peningkatan SDM perkebunan sawit merupakan kebutuhan sangat mendesak dan menjadi prioritas dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas secara berkelanjutan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Banggai meminta seluruh peserta untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di kebun masing-masing. Keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari pengetahuan atau sertifikat, melainkan dari perubahan praktik dan hasil panen di kebun. Penguatan SDM sawit di Banggai direncanakan akan berlanjut pada tahun 2027.

Pemerintah daerah setempat telah mengalokasikan program pengembangan SDM untuk 158 peserta dan masih membuka peluang untuk penambahan kuota. Melalui program ini, peningkatan produktivitas diharapkan dapat bertumpu pada optimalisasi kebun yang sudah ada, sehingga pengelolaan yang lebih baik dapat mendongkrak produksi TBS dan pendapatan pekebun.

Praktik Langsung dan Pembelajaran Lapangan

Peningkatan produktivitas dari kebun yang sudah ada menjadi fokus utama pelatihan bagi 186 peserta, yang terdiri dari pekebun dan penyuluh dari Kabupaten Banggai. Hasil kebun didorong untuk meningkat melalui praktik budi daya yang tepat, pemupukan yang benar, pengendalian hama dan penyakit yang efektif, serta teknik panen yang optimal.

“Karena itu, pekebun peserta pelatihan mendapatkan materi teknis mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan, pemupukan, pengelolaan gulma, hingga pengendalian hama dan penyakit,” papar Idum. Materi pelatihan juga mencakup aspek panen dan pascapanen, mengingat seluruh tahapan tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil akhir dan kualitas TBS.

Pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Peserta juga mendapatkan pengalaman belajar melalui kegiatan lapangan dengan mengikuti field trip ke kebun PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) di Toili, Kabupaten Banggai. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengamati secara langsung praktik pengelolaan perkebunan sawit, mulai dari penerapan teknik budi daya hingga manajemen tanaman di lapangan.

Field trip ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat melihat langsung penerapan praktik budi daya di kebun. Pengetahuan dan pengalaman yang didapat di lapangan diharapkan dapat menjadi referensi berharga bagi peserta dalam melakukan perbaikan pengelolaan di kebun masing-masing.

Dengan kombinasi pembelajaran di kelas dan praktik lapangan, peserta diharapkan mampu membawa pulang pengetahuan yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi spesifik kebun mereka. Perubahan dalam cara pemeliharaan, pemupukan, pengendalian gulma, penanganan hama dan penyakit, hingga praktik panen menjadi langkah konkret dalam upaya meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah luas lahan perkebunan.