— Industri pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia menyambut baik perubahan formula harga patokan (benchmark) untuk bijih nikel kadar rendah. Penyesuaian ini diharapkan dapat menekan biaya bahan baku utama untuk baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sekaligus memberikan kepastian operasional bagi para pelaku usaha.

Peraturan baru yang berlaku efektif sejak 15 September 2026 ini, sebagaimana dilaporkan Reuters, mengubah faktor koreksi dalam perhitungan harga bijih nikel kadar rendah dengan kandungan nikel 1,2%. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas faktor koreksi tersebut dari semula 26% menjadi 14%.

Selain itu, penurunan serupa juga diterapkan pada kandungan mineral pengikut seperti kobalt, di mana faktor koreksinya dipangkas dari 30% menjadi 17%. Penyesuaian kalkulasi ini secara otomatis akan menurunkan harga beli bijih nikel jenis limonit.

Dampak lainnya adalah pereduksian beban pajak serta royalti yang ditanggung oleh industri pengolahan yang menggunakan teknologi proses pengurasan asam bertekanan tinggi atau HPAL (High-Pressure Acid Leaching).

Daya Tahan Industri dan Tekanan Efisiensi

Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arief Perdanakusumah, menyatakan bahwa penyesuaian struktur harga limonit yang kini dianggap lebih rasional sangat krusial bagi keberlangsungan fasilitas pengolahan. Sebelumnya, skema harga lama dinilai memberatkan pelaku usaha dengan biaya bahan baku yang tinggi.

Situasi ini diperparah dengan lonjakan harga belerang global yang dipicu oleh dinamika konflik di Timur Tengah. Arief menegaskan bahwa penetapan struktur harga yang lebih terjangkau kini membuat industri pengolahan HPAL terlindungi lebih baik dari risiko kerugian operasional maupun defisit arus kas.

Optimalisasi Cadangan dan Pengawasan Imbas Kebijakan

Dari sisi produsen hulu, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menekankan pentingnya pengawasan berkala terhadap realisasi harga transaksi, volume perdagangan, dan kontribusinya terhadap penerimaan negara pasca penerapan aturan baru ini.

Meskipun demikian, APNI menilai bahwa formula harga yang selaras dengan nilai keekonomian limonit akan mendorong penyerapan bijih nikel kadar rendah secara lebih masif oleh fasilitas pengolahan. Langkah ini juga sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cadangan mineral yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis untuk ditambang.

Penyesuaian regulasi harga nikel ini merupakan bagian penting dari strategi hilirisasi industri pertambangan nasional. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, terus berupaya memperkuat posisi tawarnya dalam rantai pasok komponen baterai kendaraan listrik global.

Di tengah dinamika harga komoditas dan kenaikan biaya operasional akibat faktor geopolitik luar negeri, kebijakan harga bijih nikel yang fleksibel menjadi instrumen kunci. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara kepastian investasi pengolahan di hilir dan keberlanjutan usaha penambangan di hulu.