— PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) atau Garuda Group menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja yang positif berkat transformasi yang dipimpin oleh Danantara Indonesia. Penyempitan kerugian bersih, peningkatan armada yang siap beroperasi, dan potensi konsolidasi Pelita Air menjadi angin segar bagi maskapai pelat merah ini untuk kembali terbang lebih tinggi.

Perbaikan ini terlihat jelas dalam laporan keuangan kuartal I-2026. Garuda Group berhasil membukukan kerugian bersih sebesar US$41,6 juta, menyusut 45,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$75,9 juta. Pendapatan juga mengalami pertumbuhan 5,4% secara tahunan (year-on-year/YoY), naik dari US$723,6 juta menjadi US$762,4 juta. Laba usaha perseroan melonjak 47,25% YoY, sementara EBITDA menguat 7,0% YoY menjadi US$210,4 juta.

Pemulihan kinerja GIAA hingga kuartal I-2026 didorong oleh kombinasi faktor operasional dan non-operasional. Dari sisi operasional, jumlah armada yang siap pakai (serviceable) di Garuda Indonesia Group bertambah enam unit menjadi total 102 armada. Penambahan ini terdiri dari tiga armada Garuda (dari 57 menjadi 60 unit) dan tiga armada Citilink (dari 39 menjadi 42 unit). Hingga akhir 2026, Garuda diproyeksikan memiliki 79 armada dan Citilink 57 armada.

Garuda juga merencanakan penambahan enam armada baru pada 2026, terdiri dari empat pesawat tipe B737-800 yang dijadwalkan tiba pada kuartal II, dan dua unit tipe B737-8 pada akhir tahun. Bersamaan dengan itu, Garuda akan mengembalikan satu pesawat tipe A330-200 kepada lessor dan memensiunkan empat pesawat tipe A330-300. Citilink juga akan mengembalikan satu pesawat tipe A320-200 dan memensiunkan lima pesawat tipe B737-300 serta satu tipe B737-500.

Peningkatan jumlah armada serviceable ini berdampak positif pada jumlah penumpang grup yang naik 6,76% menjadi 5,42 juta penumpang pada kuartal I-2026, dengan imbal hasil (yield) penumpang tumbuh 2,49% menjadi US$7,56 per penumpang. Tingkat keterisian kursi (load factor) Garuda Indonesia Group juga naik tipis dari 78,05% menjadi 78,07%. Bisnis kargo pun menunjukkan geliat positif dengan kenaikan volume sebesar 2,04% menjadi 59.339 ton.

Dari sisi non-operasional, penyertaan modal senilai Rp23,6 triliun oleh Danantara pada akhir 2025 membantu merestrukturisasi beban keuangan grup. Hingga kuartal I-2026, beban keuangan Garuda Indonesia Group menurun 16,5% menjadi US$104 juta, terutama karena berkurangnya biaya liabilitas pengembalian dan pemeliharaan pesawat, serta liabilitas sewa. Ekuitas GIAA kini tercatat positif sebesar US$91,91 juta per 31 Maret 2026.

Manajemen Garuda menyatakan fokus ke depan adalah mendorong perbaikan kinerja operasional yang diharapkan berkonversi menjadi perbaikan bottom line melalui peningkatan pendapatan, optimalisasi jaringan dan kapasitas, produktivitas armada, efisiensi biaya, serta penguatan keuangan yang berkelanjutan.

Terkait rencana konsolidasi Pelita Air ke dalam ekosistem Garuda Indonesia Group, manajemen mengungkapkan bahwa belum ada keputusan final. Kajian yang bersifat menyeluruh ini masih dalam tahap pembahasan di tingkat pemegang saham dan para pihak terkait, dengan mempertimbangkan penguatan ekosistem penerbangan nasional serta keberlanjutan agenda transformasi perseroan.

Saham GIAA Sentuh Auto Rejection Atas

Pada perdagangan Senin (10/8/2026), saham GIAA melonjak 33,33% ke harga Rp72 dengan volume transaksi 1,65 miliar saham, menyentuh batas atas auto rejection (ARA). Riset Kiwoom Sekuritas mencatat, kenaikan ini didorong oleh dua sentimen utama: rencana konsolidasi Pelita Air dan penantian laporan keuangan kuartal II-2026.

Kiwoom Sekuritas menilai kenaikan saham GIAA sebagai ‘speculative rerating’ terhadap wacana konsolidasi. Namun, ARA belum bisa dianggap sebagai validasi fundamental karena bentuk transaksi konsolidasi belum final dan laporan kuartal II belum dirilis. Broker ini menyoroti potensi Pelita Air sebagai sumber dana pembayaran kewajiban lama GIAA, mengingat Pertamina sebagai pemegang saham Pelita dalam kondisi sehat.

Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengingatkan investor untuk berhati-hati. Ia menyatakan saham dengan volatilitas tinggi seperti GIAA sering mengalami ARA karena likuiditas tipis (thin liquidity) dan momentum yang digerakkan investor ritel (retail-driven momentum), bukan keyakinan institusi. Investor perlu mencermati apakah ARA disertai volume transaksi yang genuine dan net buy asing yang konsisten.

Wafi menambahkan, jika skenario penggabungan Pelita Air ke holding terjadi, hal itu akan merestrukturisasi portofolio merek yang mungkin memerlukan kejelasan strategis mengenai fokus segmen masing-masing. Langkah manajemen yang memprioritaskan Garuda terlebih dahulu bisa jadi bagian dari sequencing restrukturisasi yang lebih besar, termasuk redefinisi peran Citilink setelah Pelita masuk.

Sementara itu, Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan rekomendasi ‘trading buy’ untuk saham GIAA secara teknikal, dengan level support di Rp68 dan resistance di Rp75. Target harga yang direkomendasikan berada di kisaran Rp79-85.