— JAKARTA – Fase terburuk PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dinilai telah berlalu. Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan pemulihan operasional yang akan mendorong laba bersih perusahaan mencapai US$ 25 juta pada kuartal III-2026. Proyeksi ini didasarkan pada rampungnya perluasan area tambang dan kembalinya operasional tambang terbuka yang diperkirakan mulai berjalan pada kuartal ketiga tahun ini.

Menurut riset Samuel Sekuritas, tantangan seperti perluasan area tambang yang membutuhkan pengupasan bertahap atau pushback, serta kelebihan pasokan emas di pasar domestik, mulai teratasi pada kuartal III-2026. Kondisi ini menandai titik awal pemulihan kinerja BRMS setelah mengalami tekanan pada periode sebelumnya. Pemulihan diperkirakan akan semakin kuat memasuki kuartal IV-2026, salah satunya didorong oleh peningkatan kapasitas pabrik dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari.

Katalis Jangka Panjang dan Perjanjian Offtake

Dalam jangka yang lebih panjang, katalis positif berikutnya berasal dari rencana dimulainya penambangan bawah tanah pada semester II-2027. Samuel Sekuritas memperkirakan langkah ini dapat meningkatkan kadar emas menjadi 3,5–4,9 gram per ton (g/t). Selain itu, perjanjian penyerapan hasil produksi atau offtake antara anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals (CPM), dengan PT Antam Tbk (ANTM) hingga Juni 2028 dinilai dapat membantu mengatasi hambatan penjualan emas di pasar domestik.

Kinerja Semester I-2026 Tertekan

Pada kuartal II-2026, kinerja BRMS mengalami tekanan yang cukup dalam. Pendapatan merosot 62,1% secara kuartalan atau 54,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi US$ 26,3 juta. Secara kumulatif, pendapatan BRMS pada semester I-2026 tercatat US$ 95,8 juta, turun 20,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi ini hanya mencapai 35,3% dari estimasi Samuel Sekuritas dan 26,3% dari konsensus, yang berada di bawah ekspektasi.

Tekanan pendapatan terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan emas sebesar 57,4% secara kuartalan menjadi 196 kilogram, di tengah kondisi kelebihan pasokan di pasar domestik. Dari sisi laba, rendahnya kadar bijih menekan margin BRMS hingga perseroan mencatat rugi bersih US$ 4,8 juta pada kuartal II-2026, berbanding terbalik dengan laba bersih US$ 18,1 juta pada kuartal I-2026.

Akibatnya, laba bersih Bumi Resources Minerals pada semester I-2026 tersisa US$ 13,3 juta atau anjlok 40,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasinya setara 23,8% dari estimasi Samuel Sekuritas dan 12,7% dari konsensus, yang juga berada di bawah ekspektasi.

Penurunan Kadar Emas dan Dampaknya

Tekanan operasional BRMS pada kuartal II-2026 juga tercermin dari penurunan kadar emas menjadi 0,9 g/t, dibandingkan 1,42 g/t pada kuartal I-2026 dan 1,52 g/t pada semester I-2025. Penurunan ini terjadi karena perusahaan menggunakan persediaan bijih yang telah ditimbun selama proses pushback River Reef hingga kuartal II-2026. Dampaknya, volume produksi emas hanya mencapai 26% dari target tahunan 2026 yang sekitar 80 ribu troy ounce (koz). Adapun harga realisasi emas BRMS tercatat US$ 4.138 per ons, terpangkas 8,3% secara kuartalan.

Rekomendasi Beli dan Potensi Kenaikan Saham

Meskipun demikian, karena fase terburuk telah terlewati, Samuel Sekuritas kembali mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BRMS. Target harga saham BRMS ditetapkan sebesar Rp 900 berdasarkan metode valuasi sum of the parts (SOTP). Target ini mencerminkan potensi kenaikan harga saham hingga 41,7% jika mengacu pada harga pasar saat ini.

Namun, Samuel Sekuritas tetap mencatat sejumlah risiko yang dapat menekan prospek BRMS. Salah satunya adalah potensi penurunan harga emas di tengah kondisi suku bunga yang lebih tinggi. Ketidakpastian volume penjualan juga menjadi risiko karena perjanjian offtake dengan ANTM hanya mencakup 60% dari total volume penjualan.