— JAKARTA – Kuartal III-2026 diprediksi menjadi periode paling krusial bagi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Pada periode ini, investor akan mulai menimbang kekuatan pertumbuhan bisnis fintech perusahaan di tengah tekanan regulasi yang dihadapi segmen ojek online.

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai fundamental GOTO saat ini menunjukkan perkembangan yang lebih kompleks dibandingkan kekhawatiran mengenai batas minimum harga saham Rp 1. GOTO telah berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada semester I-2026, sebuah pencapaian momentum yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kinerja positif ini sebagian besar ditopang oleh perkembangan pesat bisnis fintech. Tercatat, loan book pada segmen tersebut melonjak 58% secara tahunan atau year on year (yoy). Namun, segmen ojek online masih menghadapi tantangan akibat pemberlakuan aturan komisi baru. Situasi ini membuat arah fundamental GOTO akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pertumbuhan fintech mampu mengimbangi dampak regulasi terhadap bisnis layanan transportasi daring.

“Kuartal ketiga akan menjadi periode paling krusial untuk melihat mana narasi yang menang,” ujar Jason di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Sesuai dengan rencana, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menurunkan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 mulai 28 September 2026. Menurut Jason, perubahan batas minimum harga saham menjadi Rp 1 tidak akan secara otomatis menurunkan harga saham GOTO. Pergerakan harga saham akan tetap bergantung pada penilaian pasar terhadap fundamental dan prospek keuangan perseroan.

“Batas baru hanya melebarkan ruang gerak harga, bukan menentukan ke arah mana harga bergerak,” jelasnya. Dengan pemberlakuan batas minimum Rp 1, harga saham GOTO berpotensi bergerak sesuai keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar. Optimisme terhadap prospek bisnis fintech dapat menjadi faktor pendukung, sementara kekhawatiran terhadap regulasi bisnis ojek online bisa memberikan tekanan.

Selain itu, GOTO berencana untuk menghanguskan 32 miliar saham treasuri, yang setara dengan 2,7% dari total saham beredar. Langkah ini dinilai berpotensi memberikan dampak positif tambahan terhadap laba per saham perseroan di masa mendatang.

“Perubahan batas minimum harga saham tidak serta-merta menentukan arah saham GOTO. Performa harga pada akhirnya tetap akan mencerminkan fundamental serta prospek keuangan emiten,” pungkasnya.