DailyFX.ID — Harga batu bara dunia menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada perdagangan Senin (24/8/2026). Kenaikan ini terutama ditopang oleh permintaan energi yang solid dari negara-negara Asia serta kekhawatiran yang terus membayangi pasokan global.
Berdasarkan data perdagangan yang tersedia, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 terpantau stabil di level US$ 131,5 per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 mengalami kenaikan sebesar US$ 1,05, mencapai US$ 139,3 per ton. Kontrak Oktober 2026 juga turut terangkat US$ 1,2, ditutup pada US$ 140,95 per ton.
Pergerakan harga juga terlihat pada batu bara Rotterdam. Untuk kontrak Agustus 2026, harganya sedikit melemah US$ 0,05 menjadi US$ 124,5 per ton. Namun, kontrak September 2026 melonjak US$ 1,3 ke level US$ 128,5 per ton, dan kontrak Oktober 2026 melesat US$ 1,1 ke posisi US$ 129,25 per ton.
Mengutip Trading Economics, harga batu bara berhasil menembus level US$ 131 per ton pada akhir Agustus dan mencapai titik tertinggi sejak awal bulan. Lonjakan ini terjadi di tengah permintaan energi Asia yang tetap kuat, ditambah dengan risiko pasokan yang masih menjadi perhatian utama pasar komoditas ini.
Sinyal stimulus terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah China berpotensi memberikan dukungan tambahan terhadap harga batu bara. Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah China untuk mendorong permintaan domestik dan mempercepat investasi infrastruktur diperkirakan akan memperkuat aktivitas industri serta meningkatkan konsumsi listrik di negara tersebut.
Jika pemulihan aktivitas ekonomi di China terus berlanjut secara berkelanjutan, maka permintaan untuk pembangkit listrik dan kebutuhan batu bara berpotensi mengalami peningkatan lebih lanjut.
Cuaca Panas Tingkatkan Permintaan Batu Bara
Faktor pendukung lainnya datang dari Jepang. Harga listrik di negara tersebut dilaporkan telah meningkat ke level tertinggi sejak tahun 2023. Peningkatan ini dipicu oleh gelombang panas yang menyebabkan melonjaknya kebutuhan pendinginan.
Lonjakan permintaan listrik yang signifikan ini berpotensi meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga termal, yang pada gilirannya akan memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan batu bara.
Meskipun tren kenaikan terlihat, arah pergerakan harga batu bara ke depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan permintaan listrik, tingkat produksi pembangkit listrik, ketersediaan persediaan batu bara, serta kondisi pasokan secara keseluruhan di pasar global.
Dengan terus solidnya permintaan energi dari Asia dan adanya sejumlah risiko pasokan, harga batu bara berpeluang untuk tetap mendapatkan dukungan. Namun, keberlanjutan tren penguatan ini akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pemulihan konsumsi listrik dan aktivitas industri di negara-negara konsumen utama batu bara.
Ikuti DailyFX.ID
