— Harga batu bara terpantau anjlok pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh perubahan bauran energi di India, di mana pertumbuhan pembangkit listrik berbasis batu bara mulai menunjukkan stagnasi.

Data perdagangan menunjukkan harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2026 turun US$ 0,65 menjadi US$ 144 per ton. Kontrak Oktober 2026 ambrol US$ 2,05 ke level US$ 143,25 per ton, sementara kontrak November 2026 jatuh US$ 2,3 menjadi US$ 146,1 per ton.

Di pasar Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak September 2026 terkoreksi US$ 1,6 menjadi US$ 137,05 per ton. Kontrak Oktober 2026 anjlok US$ 2,05 ke level US$ 136,5 per ton, dan kontrak November 2026 terpangkas US$ 1,05 menjadi US$ 137,5 per ton.

Berdasarkan laporan Oilprice, pembangkit listrik berbasis batu bara di India tidak mengalami pertumbuhan antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2026. Periode ini menandai dua tahun pertama dalam lebih dari 50 tahun di mana pembangkit listrik batu bara di negara tersebut tidak mengalami pertumbuhan.

Analisis dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dipublikasikan untuk Carbon Brief menunjukkan fenomena ini terjadi bersamaan dengan pertumbuhan pembangkitan listrik nonfosil di India yang mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Periode dari paruh pertama 2024 hingga paruh pertama 2026 mencatat peningkatan terbesar dalam pembangkitan listrik nonfosil di India,” kata Lauri Myllyvirta, analis utama CREA. Lonjakan energi bersih ini menyebabkan pembangkit listrik batu bara India tidak tumbuh, meskipun permintaan listrik secara keseluruhan terus meningkat.

Meskipun demikian, India masih melanjutkan investasi besar di sektor bahan bakar fosil. Investasi ini mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru, rencana konversi batu bara menjadi bahan kimia, serta peningkatan produksi batu bara kokas domestik untuk kebutuhan industri baja.

Batu Bara Masih Menjadi Pilar Utama

CREA mencatat bahwa sebanyak 43 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara masih dalam tahap pembangunan di India hingga akhir Juni 2026.

Secara keseluruhan, kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara India terus menunjukkan peningkatan. Batu bara tetap menjadi pilar utama dalam bauran listrik negara tersebut, berkontribusi sekitar dua pertiga dari total produksi listrik nasional.

India mengandalkan batu bara untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya, bahkan seiring dengan peningkatan kapasitas energi terbarukan. Pemerintah juga mempertahankan penggunaan batu bara sebagai strategi antisipasi risiko pemadaman listrik saat gelombang panas ekstrem.

Diprediksi, batu bara akan tetap menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan India dalam dua dekade mendatang.

“Kita tidak bisa bersikap subjektif terhadap batu bara. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat menggunakannya secara berkelanjutan,” ujar Rajnath Ram, penasihat energi pada lembaga pemikir kebijakan pemerintah NITI Aayog.