DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan lagi pada perdagangan Kamis (27/8/2026) pagi, melanjutkan tren pelemahan selama dua hari berturut-turut. Pergerakan aset kripto unggulan ini dibayangi oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan, memicu kekhawatiran mengenai arah suku bunga acuan The Fed.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.10 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat melemah 0,28% menjadi US$ 78.725 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,4 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.867 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar kripto global pun ikut tergerus tipis 0,01% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,65 triliun. Namun, Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, menunjukkan kenaikan tipis 0,05%. Ethereum (ETH) juga mencatat kenaikan signifikan 1,53% menjadi US$ 2.491, sementara Binance Coin (BNB) menguat 1,12% ke level US$ 704.
Menurut Cointelegraph, harga Bitcoin sempat menembus level di bawah US$ 78.000 setelah pembukaan perdagangan Wall Street pada Rabu. Data dari TradingView menunjukkan pelemahan Bitcoin sempat menyentuh angka sekitar 1% dalam sehari.
Tekanan terhadap aset kripto ini muncul setelah indeks PCE (Personal Consumption Expenditures), salah satu indikator inflasi pilihan The Fed, menunjukkan kenaikan 3,7% secara tahunan pada Juli. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 3,6%.
Secara bulanan, indeks PCE naik 0,2%. Sementara itu, PCE inti, yang mengecualikan komponen harga pangan dan energi, juga mengalami peningkatan sebesar 0,2%. Data ini mengecewakan pasar, terutama setelah kenaikan PCE pada Juni secara tak terduga melambat, bahkan mencatat penurunan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir.
“Inflasi AS masih berada hampir dua kali lipat dari target The Fed sebesar 2%,” demikian tulis The Kobeissi Letter melalui platform X.
Kondisi inflasi yang persisten ini berpotensi menjadi beban bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Inflasi yang tinggi dapat mendorong The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.
Menanti Pidato Ketua The Fed
Pasar kini juga menyoroti pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada Jumat (28/8/2026) dalam simposium ekonomi tahunan Jackson Hole. Pernyataan Warsh akan menjadi perhatian utama untuk mengukur arah kebijakan moneter menjelang keputusan suku bunga pada September.
Selain itu, investor juga mencermati laporan keuangan Nvidia yang dirilis setelah penutupan perdagangan Wall Street pada Rabu. Kinerja perusahaan teknologi raksasa tersebut diperkirakan akan memicu volatilitas jangka pendek pada aset berisiko, termasuk saham teknologi dan aset kripto.
Di luar sentimen makroekonomi, pelaku pasar Bitcoin juga tengah mencermati penutupan harga bulanan Agustus. Hal ini penting untuk melihat apakah tren pelemahan yang terjadi dapat berbalik arah.
Trader dan analis Rekt Capital memperingatkan bahwa Bitcoin masih berisiko melanjutkan pola lower high yang telah terbentuk sejak Oktober 2025. “Penutupan bulanan di bawah resistance biru tidak hanya akan memperkuat lower high makro berikutnya, tetapi juga membentuk resistance yang bertepatan dengan garis tren turun makro,” jelas Rekt Capital melalui X.
Menurutnya, selama pola lower high tersebut belum berhasil ditembus, kenaikan Bitcoin dalam sepekan terakhir masih dapat dikategorikan sebagai relief rally dalam tren yang lebih luas. Rekt Capital juga menyoroti EMA 50 pekan di US$77.251 sebagai level krusial yang perlu direbut kembali dan dipertahankan oleh Bitcoin.
Bitcoin terakhir kali mencatat penutupan bulanan di atas level tersebut terjadi pada Oktober 2025.
Ikuti DailyFX.ID
