DailyFX.ID — Analis dari firma riset Bernstein, Gautam Chhugani, merilis proyeksi optimistis untuk Bitcoin (BTC). Ia memperkirakan aset kripto terbesar ini berpotensi mencapai harga US$ 1 juta per keping pada tahun 2033. Optimisme ini didorong oleh peningkatan permintaan dari investor institusional dan kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang fiat.
Dalam catatannya, Chhugani memaparkan beberapa skenario pergerakan harga Bitcoin. Ia memproyeksikan Bitcoin akan berada di kisaran US$ 125.000 pada akhir 2026, baik dalam skenario moderat maupun optimis. Memasuki pertengahan 2027, harga diprediksi mencapai US$ 150.000 dalam skenario moderat, bahkan bisa melonjak hingga US$ 200.000 jika tren bullish menguat.
Target harga untuk tahun 2029 ditetapkan sebesar US$ 300.000 pada skenario moderat, dan berpotensi mencapai US$ 500.000 pada skenario bullish. Chhugani menegaskan kembali target jangka panjangnya yaitu US$ 1 juta per keping pada tahun 2033.
Pemulihan Pasar dan Siklus Empat Tahunan
Chhugani mengamati bahwa Bitcoin mengikuti siklus historis empat tahunannya. Lonjakan harga sebesar 28% baru-baru ini dianggap sebagai sinyal kuat berakhirnya fase tren penurunan harga atau ‘bear market’. Ia menyoroti kebijakan pemotongan suku bunga yang mulai dihentikan serta pembengkakan utang nasional Amerika Serikat yang kini menembus US$ 40 triliun.
Kondisi ini akan mendorong pembuat kebijakan untuk mengambil langkah penurunan nilai mata uang, bukan pengetatan fiskal yang ketat. Dalam konteks ekonomi tersebut, Bitcoin dengan pasokan terbatas yang dipatok maksimum 21 juta keping semakin mengukuhkan posisinya sebagai aset lindung nilai utama atau ‘hard asset’.
Peran Investor Institusional yang Makin Dominan
Berbeda dari siklus sebelumnya di mana penurunan harga bisa mencapai 75% hingga 90%, koreksi harga pada siklus kali ini relatif lebih terbatas. Chhugani menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh masuknya investor institusional dan korporasi yang terus membeli Bitcoin, sehingga memberikan fondasi ketahanan harga yang lebih kuat atau ‘downside support’.
Sejak diciptakan pada 2009, Bitcoin telah bertransformasi dari eksperimen mata uang digital menjadi aset keuangan global yang diperhitungkan. Sifat desentralisasi dan keterbatasan pasokannya membuat Bitcoin dijuluki sebagai “emas digital”. Dukungan terhadap Bitcoin semakin meluas setelah instrumen Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot diterima oleh regulasi AS pada awal 2024.
Penerimaan ETF ini memungkinkan dana pensiun dan manajer investasi besar masuk ke pasar kripto secara legal dan masif. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan inflasi global yang mengikis daya beli mata uang fiat, adopsi institusional serta kelangkaan pasokan menjadi bahan bakar utama optimisme para analis terhadap masa depan Bitcoin.
Ikuti DailyFX.ID
