— Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Tekanan terhadap harga komoditas ini berasal dari kombinasi sentimen negatif, termasuk penguatan nilai tukar ringgit Malaysia, pelemahan harga minyak kedelai di Chicago, serta kekhawatiran mengenai permintaan global dan melimpahnya pasokan.

Berdasarkan data dari Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat jatuh 90 Ringgit Malaysia menjadi 4.630 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 menyusul dengan anjlok 98 ringgit Malaysia menjadi 4.761 ringgit Malaysia per ton.

Penurunan juga terlihat pada kontrak-kontrak berikutnya. Kontrak November 2026 terpangkas 94 ringgit Malaysia menjadi 4.852 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Desember 2026 ambles 82 ringgit Malaysia menjadi 4.931 ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak Januari 2027, harga jatuh 68 ringgit Malaysia menjadi 4.996 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Februari 2027 terkoreksi 58 ringgit Malaysia menjadi 5.041 ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia melanjutkan tren penurunannya, diperdagangkan di bawah level 4.900 Ringgit Malaysia per ton dan menyentuh level terendah dalam sepekan terakhir. Penurunan ini terjadi setelah pelaku pasar kembali aktif pasca libur.

Sentimen pasar yang menekan harga CPO dipicu oleh penguatan ringgit Malaysia dan pelemahan harga minyak kedelai di bursa Chicago. Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia juga turut menambah tekanan, terutama setelah muncul harapan mengenai potensi dibukanya kembali Selat Hormuz.

Kekhawatiran terhadap permintaan global turut membebani harga CPO. Data dari surveyor kargo Intertek Testing Services mencatat bahwa ekspor produk sawit Malaysia selama periode 1 hingga 25 Agustus mengalami penurunan sebesar 20% dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Juli.

Pasokan CPO Berlimpah

Tekanan terhadap harga CPO semakin besar akibat melimpahnya pasokan di Malaysia. Persediaan minyak sawit Malaysia pada bulan Juli dilaporkan meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Di sisi lain, ekspor CPO dan produk sawit dari Indonesia, sebagai produsen terbesar dunia, tercatat mengalami penurunan sebesar 9,2% secara tahunan pada bulan Juni. Hal ini berdasarkan data yang dirilis oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Meskipun demikian, penurunan harga CPO tertahan oleh beberapa faktor pendukung. Penguatan harga minyak kedelai di Dalian memberikan dukungan terhadap pasar minyak nabati secara keseluruhan.

Pelaku pasar juga secara cermat mencermati potensi berkembangnya fenomena El Nino. Fenomena cuaca ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kekeringan dan berpotensi mengganggu produksi kelapa sawit, baik di Indonesia maupun Malaysia.

Selain faktor cuaca, kebijakan penggunaan biodiesel di Indonesia juga menjadi perhatian penting. Pemerintah Indonesia berencana menerapkan kebijakan mandat B50 secara penuh mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik dan pada gilirannya mengurangi jumlah pasokan yang tersedia untuk ekspor.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, arah pergerakan harga CPO dalam jangka pendek diprediksi masih akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara tekanan dari sisi permintaan dan pasokan. Dukungan datang dari prospek peningkatan konsumsi biodiesel serta potensi risiko gangguan produksi akibat perubahan cuaca.