— Harga kontrak minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali mencatat penguatan pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Kenaikan ini menandai dua hari beruntun penguatan harga, yang ditopang oleh dua faktor utama: kenaikan harga minyak mentah dan membaiknya permintaan ekspor CPO dari Malaysia.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat naik 17 ringgit Malaysia, mencapai 4.562 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 juga meningkat 17 ringgit Malaysia menjadi 4.648 ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak yang lebih jauh juga menunjukkan tren serupa. Kontrak Oktober 2026 terkerek 25 ringgit Malaysia menjadi 4.748 ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 melesat 30 ringgit Malaysia menjadi 4.820 ringgit Malaysia per ton. Lonjakan lebih signifikan terlihat pada kontrak Desember 2026 yang melonjak 32 ringgit Malaysia menjadi 4.868 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Januari 2027 naik 34 ringgit Malaysia menjadi 4.906 ringgit Malaysia per ton.

Penguatan harga CPO ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah global, yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Asia Barat. Situasi ini secara tidak langsung turut menopang harga CPO, mengingat minyak sawit seringkali bersaing dengan komoditas energi dan minyak nabati lainnya di pasar internasional.

David Ng, seorang trader proprietary dari Iceberg X Sdn Bhd, menyatakan bahwa kenaikan harga minyak mentah memberikan dukungan signifikan terhadap pergerakan harga CPO. Selain itu, permintaan ekspor CPO yang tetap kuat juga turut menjaga sentimen positif di pasar dalam jangka pendek.

Ekspor CPO Menguat

Anilkumar Bagani, Head of Commodity Research di Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, menambahkan bahwa kenaikan harga CPO juga didorong oleh aksi bargain buying, menyusul semakin lebarnya diskon CPO terhadap gas oil. Menurutnya, penguatan kontrak refined, bleached and deodorised (RBD) palm olein di Dalian Commodity Exchange juga memberikan dukungan tambahan terhadap harga CPO.

Kinerja ekspor minyak sawit Malaysia pada awal Agustus juga menunjukkan perbaikan yang menggembirakan. Data dari Intertek Testing Services memperkirakan ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-10 Agustus 2026 mencapai 445.466 ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,62% dibandingkan estimasi pada periode 1-10 Juli.

Sementara itu, lembaga pemantau lain, AmSpec, memperkirakan ekspor mencapai 432.742 ton, yang merupakan peningkatan sebesar 9,21% dibandingkan estimasi ekspor pada periode 1-10 Juli. Peningkatan volume ekspor ini menjadi sinyal positif yang mengindikasikan adanya peningkatan permintaan minyak sawit Malaysia, sekaligus memberikan dukungan fundamental terhadap harga CPO.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah global tetap menjadi salah satu faktor yang terus dicermati oleh pasar. Penguatan harga energi berpotensi meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai salah satu bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, sekaligus memengaruhi sentimen pasar komoditas secara keseluruhan.