— JAKARTA – Harga crude palm oil (CPO) diprediksi memiliki peluang untuk kembali menguat pada perdagangan pekan ini. Sejumlah sentimen global dan domestik akan menjadi penentu arah CPO, mulai dari perubahan pola permintaan China hingga perkembangan stok dan ekspor Malaysia.

Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO berpotensi mengalami bullish atau rebound. “Dari sisi teknikal, area resistance CPO diperkirakan berada pada kisaran 4.650-4.775 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, area support berada di kisaran 4.500-4.600 Ringgit Malaysia per ton,” ungkapnya.

Yoga menjelaskan, kemampuan harga bertahan di atas area support akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat peluang pemulihan CPO. Sebaliknya, tekanan jual yang membawa harga menembus support dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut.

Sejumlah indikator akan menjadi perhatian pasar pada pekan ini. Salah satunya adalah laporan bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) serta data ekspor sawit Malaysia. Selain data tersebut, pasar juga akan mencermati kondisi di negara produsen utama, khususnya Indonesia dan Malaysia, terutama terkait kebijakan ekspor dan implementasi mandatori biodiesel.

“Dari sisi permintaan, perkembangan di negara importir utama seperti India, China, dan Uni Eropa juga akan menjadi faktor penting bagi harga CPO,” tambahnya.

Pergerakan harga minyak kedelai juga perlu diperhatikan mengingat kedelai dan minyak sawit merupakan komoditas substitusi dalam pasar minyak nabati. Perubahan harga minyak kedelai dapat memengaruhi daya tarik CPO bagi konsumen global.

Dalam basis perdagangan Jumat ke Jumat, kontrak Agustus 2026 turun 4 Ringgit Malaysia menjadi 4.527 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak September 2026 naik tipis 2 Ringgit Malaysia menjadi 4.606 Ringgit Malaysia per ton dan kontrak Oktober 2026 menguat 34 Ringgit Malaysia menjadi 4.677 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak November 2026 naik 60 Ringgit Malaysia menjadi 4.735 Ringgit Malaysia per ton, kontrak Desember 2026 meningkat 81 Ringgit Malaysia menjadi 4.785 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Januari 2027 melonjak 91 Ringgit Malaysia menjadi 4.829 Ringgit Malaysia per ton.

Prospek CPO di Semester II

Dalam jangka menengah, Girta memperkirakan harga CPO pada semester II-2026 akan lebih konstruktif dibandingkan semester I-2026, dengan kecenderungan bullish.

“Harga CPO diperkirakan bergerak dalam kisaran 4.400-4.800 Ringgit Malaysia per ton sepanjang semester II,” jelasnya.

Prospek tersebut didukung oleh sejumlah katalis, salah satunya faktor El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi sawit. “Kondisi cuaca menjadi faktor penting karena dapat berdampak terhadap produktivitas perkebunan dan pasokan minyak sawit global,” paparnya.

Selain faktor produksi, permintaan dari India juga berpotensi memberikan dukungan terhadap harga CPO. Serangkaian festival di India yang berlangsung pada Agustus hingga November dapat mendorong peningkatan permintaan minyak nabati.

“Dengan kombinasi potensi gangguan pasokan dan meningkatnya permintaan musiman, harga CPO pada paruh kedua tahun ini dinilai memiliki ruang untuk bergerak lebih konstruktif,” tegasnya.

Meskipun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan stok, ekspor, kebijakan biodiesel Indonesia dan Malaysia, serta persaingan dengan minyak kedelai untuk menentukan seberapa kuat tren bullish CPO dapat bertahan.