DailyFX.ID — Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (24/9/2026), mencapai level tertinggi dalam sepekan. Kenaikan ini dipicu oleh serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi yang kembali menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global.
Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent tercatat naik US$ 3,52 atau 3,4% menjadi US$ 106,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami kenaikan sebesar US$ 2,45 atau 2,7%, ditutup pada angka US$ 94,61 per barel. Dalam perdagangan intraday, kedua jenis minyak tersebut sempat mengalami lonjakan sekitar 5%. Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 15 September, menandai pemulihan setelah sebelumnya merosot 13% dalam enam sesi perdagangan.
Pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi dari Yaman. Serangan ini dilaporkan menyasar wilayah selatan Taif dan kawasan Yanbu yang berada di pesisir Laut Merah, demikian pernyataan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman.
Insiden ini kembali membangkitkan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah situasi ketegangan geopolitik yang masih tinggi. Arab Saudi sendiri diketahui sedang berupaya meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui East-West Pipeline menuju pusat ekspornya di Yanbu.
Meski demikian, kenaikan harga minyak sempat mereda dari level tertingginya. Hal ini terjadi setelah muncul kabar mengenai penjajakan jalan keluar bertahap dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Selat Hormuz Menjadi Kunci Negosiasi
Sejumlah sumber yang memahami jalannya pembicaraan tersebut mengungkapkan bahwa negosiator AS dan Iran di New York sedang mengeksplorasi sebuah kesepakatan. Kesepakatan ini diharapkan dapat memungkinkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Teheran.
Selat Hormuz memegang peranan krusial dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan. Iran berkeinginan agar blokade ekonomi AS yang menekan perekonomiannya dapat dilonggarkan, sementara Washington menginginkan jalur pelayaran minyak global tersebut kembali terbuka.
Namun, kedua belah pihak dilaporkan masih berupaya mempertahankan posisi tawar masing-masing dalam negosiasi tersebut, menurut sumber Iran, pejabat regional, dan diplomat Barat yang dikutip Reuters.
Tekanan pada Pasokan Diesel Global
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berlangsung, pasokan diesel global juga dilaporkan masih dalam kondisi ketat. Harga diesel sendiri telah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir akibat berbagai gangguan pasokan yang terjadi.
Uni Eropa dan AS terus menjalin komunikasi tingkat tinggi terkait isu pasokan diesel. Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan pembatasan ekspor diesel, meskipun Menteri Energi AS Chris Wright telah membantah adanya rencana larangan tersebut.
Pasokan diesel global semakin tertekan setelah Rusia memberlakukan larangan ekspor bahan bakar tersebut, menyusul gangguan pada kilang dan infrastruktur energinya akibat serangan Ukraina. Tekanan pasokan juga diperparah oleh serangan Iran terhadap kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah.
Beberapa analis memperingatkan bahwa kebijakan larangan ekspor diesel oleh AS belum tentu efektif dalam menurunkan harga energi. Kebijakan tersebut justru berpotensi memperketat pasokan global dan semakin mengganggu perekonomian dunia.
Ikuti DailyFX.ID
