— PT Harum Energy Tbk (HRUM) berhasil membukukan total pendapatan sebesar US$ 1,07 miliar atau setara dengan Rp 19 triliun sepanjang paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 67% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu US$ 645,27 juta.

Peningkatan kinerja keuangan emiten berkode HRUM ini didukung oleh kontribusi penjualan ekspor dan lokal dari produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) nikel dan MHP cobalt. Penjualan ekspor MHP nikel dan MHP cobalt mencapai US$ 294,15 juta, sementara penjualan lokal dari komoditas yang sama tercatat sebesar US$ 234,61 juta. Perlu dicatat, penjualan dari komoditas ini belum tercantum pada laporan keuangan semester I-2025.

Secara konsolidasi, laba bersih HRUM melonjak drastis menjadi US$ 129,30 juta, naik dari US$ 38,35 juta pada semester I-2025. Namun, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat US$ 36,49 juta di semester I-2026, meningkat dari US$ 29,76 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pergerakan saham HRUM pada sesi I perdagangan Senin (10/8/2026) menunjukkan kenaikan 2,45% ke level Rp 840. Meskipun demikian, secara year-to-date, saham HRUM masih mengalami penurunan lebih dari 22%. Saham HRUM sempat menunjukkan lonjakan mendadak di sesi I hari ini, setelah sebelumnya mengalami pelemahan selama empat hari berturut-turut dari 4 hingga 7 Agustus 2026.

Dari sisi valuasi, data Stockbit Sekuritas menunjukkan rasio price to book value (PBV) HRUM berada di angka 0,66 kali. Rasio PBV ini mengukur perbandingan harga saham di pasar dengan nilai buku per sahamnya.

Sebelumnya, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dilaporkan mencetak lonjakan laba bersih sekitar 200% menjadi US$ 27,6 juta pada kuartal II-2026 jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan nikel, kenaikan harga jual, serta penguatan integrasi bisnis nikel, yang diprediksi menjadi faktor pendorong kenaikan harga saham HRUM menuju target.

Berdasarkan catatan Citi, laba bersih HRUM di semester I-2026 mengalami kenaikan 23% menjadi US$ 36,5 juta. Angka ini setara dengan 37% dan 44% dari proyeksi Citi dan konsensus analis untuk periode setahun penuh. Citi memperkirakan perusahaan akan mampu memenuhi proyeksi kinerja baik dari estimasi mereka maupun konsensus analis.

Manajemen HRUM, menurut laporan Citi, memprediksi peningkatan penjualan bijih nikel seiring dengan optimalisasi penyerapan fasilitas HPAL. Selain itu, smelter nikel perseroan ditargetkan dapat menyerap 50% dari total bijih nikel internal.

Rekomendasi dan Target Harga

Citi mencatat bahwa pendapatan HRUM pada semester I-2026 melonjak 67% menjadi US$ 1,1 miliar. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan penjualan nikel sebesar 69% menjadi 56 ribu ton. Di sisi lain, harga jual rata-rata nikel juga mengalami kenaikan 32% menjadi US$ 15.958 per ton.

HRUM tetap mempertahankan panduan target produksi nikel tahun 2026 sebanyak 125 ribu ton. Penjualan MHP diprediksi memberikan margin keuntungan yang tinggi. Pada semester I-2026, MHP telah menyerap 44% dari total bijih nikel internal.

Dengan pertimbangan tersebut, Citi mempertahankan rekomendasi buy untuk saham HRUM dengan target harga Rp 1.300. Prediksi yield dividen saham HRUM diperkirakan mencapai 2,3%.