— Kelompok pejuang Ansar Allah dari Yaman, yang lebih dikenal sebagai kelompok Houthi, mengklaim telah melancarkan dua operasi militer berskala besar yang menyasar target vital di wilayah Arab Saudi. Wilayah yang menjadi sasaran meliputi ibu kota Riyadh serta fasilitas minyak milik perusahaan publik Arab Saudi, Aramco, di kota pelabuhan Yanbu yang berada di pesisir Laut Merah.

Juru bicara militer Houthi mengonfirmasi bahwa aksi penyerangan ini merupakan langkah balasan atas agresi militer berlanjut yang dilakukan oleh pihak Arab Saudi di wilayah Yaman. “Kami melancarkan dua operasi militer khusus sebagai balasan atas agresi Arab Saudi. Target pertama berfokus pada instalasi vital di ibu kota lawan, Riyadh. Sementara itu, target kedua menghantam fasilitas Aramco di Yanbu,” ungkap juru bicara tersebut saat menyampaikan keterangannya kepada saluran televisi resmi Yaman Al Masirah, Jumat (25/9/2026).

Dalam operasi militer tersebut, pihak militer Houthi mengerahkan kombinasi armada tempur modern, yang terdiri atas rudal balistik, rudal jelajah (cruise missile), serta sejumlah pesawat nirawak (drone) intai dan penyerang.

Escalasi Konflik Melonjak

Perselisihan antara kedua belah pihak mengalami peningkatan tensi yang signifikan sejak pertengahan Juli 2026. Pemicu utama eskalasi berdarah ini diawali oleh serangan mendadak pasukan pro-pemerintah Yaman terhadap Bandara Internasional Sanaa. Serangan udara itu terjadi tepat ketika sebuah pesawat yang membawa delegasi pimpinan Houthi baru saja mendarat dari Iran.

Menanggapi insiden di Bandara Sanaa, kelompok Houthi menuding Arab Saudi sebagai dalang utama di balik penyerangan tersebut. Houthi lantas secara resmi menyatakan perang terbuka terhadap Kerajaan Arab Saudi dan berikrar tidak akan menghentikan aksi konfrontasi militer sampai blokade ekonomi dan akses transportasi terhadap wilayah yang mereka kuasai dicabut secara menyeluruh.

Dominasi Houthi di Jalur Strategis Laut Merah

Di samping aksi gempuran jarak jauh ke wilayah Arab Saudi, kelompok Houthi dilaporkan terus mencatatkan kemajuan pesat di medan pertempuran darat. Pasukan Houthi berhasil memperluas ruang kendali mereka di wilayah barat daya dan barat Yaman. Kini, mereka telah menguasai kawasan pesisir sepanjang Laut Merah serta permukiman penting di sekitar Selat Bab al-Mandab yang merupakan jalur pelayaran internasional dan logistik energi yang sangat krusial bagi perdagangan global.

Konflik yang melibatkan kelompok Houthi dan Arab Saudi merupakan bagian dari perang saudara berkepanjangan di Yaman yang bermula sejak akhir 2014. Berikut adalah rangkuman kronologisnya:

  • Perebutan Kekuasaan di Sanaa (2014–2015): Kelompok Houthi, gerakan politik dan militer Syiah Zaidiyah dari Yaman utara, melakukan pengambilalihan ibu kota Sanaa dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi yang diakui secara internasional.
  • Intervensi Militer Koalisi Arab Saudi (2015): Khawatir akan menguatnya pengaruh Iran (yang dituduh mendanai dan menyokong Houthi) di perbatasan selatannya, Arab Saudi membentuk koalisi militer negara-negara Arab pada Maret 2015 untuk memulihkan pemerintahan resmi Yaman.
  • Infrastruktur Energi sebagai Target: Selama pertempuran berlangsung, Houthi secara berulang melancarkan serangan balasan lintas batas dengan menyasar infrastruktur kritis Arab Saudi, khususnya instalasi minyak Aramco dan fasilitas bandara sipil, menggunakan teknologi rudal dan drone yang kian canggih.
  • Dampak Kemanusiaan dan Blokade: Perang ini memicu salah satu krisis kemanisan terburuk di dunia. Blokade udara dan laut yang diberlakukan oleh koalisi pimpinan Saudi untuk mencegah masuknya pasokan senjata diduga turut memperparah krisis pangan dan obat-obatan di Yaman, yang menjadi alasan utama Houthi terus menuntut pencabutan blokade tersebut.