DailyFX.ID — Pergerakan militer besar-besaran kelompok Ansar Allah (Houthi) di pesisir barat Yaman kembali menempatkan kawasan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab dalam posisi siaga. Langkah strategis ini tidak hanya memperluas cengkeraman Houthi, tetapi juga berpotensi mengubah peta geopolitik konflik Yaman yang telah berlangsung selama 12 tahun.
Perkembangan ini memberikan keuntungan strategis bagi Iran, sekutu utama Houthi. Jika ketegangan dengan Amerika Serikat kembali memuncak, Iran berpeluang mengontrol dua titik kemacetan maritim vital dunia: Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab.
Ancaman Langsung terhadap Jalur Pasokan Energi Arab Saudi
Penguasaan pesisir barat Yaman oleh Houthi menjadi ancaman langsung bagi ekspor minyak Arab Saudi. Otoritas Saudi selama ini mengandalkan Jalur Pipa Timur-Barat menuju Terminal Yanbu di Laut Merah sebagai rute alternatif saat Selat Hormuz bergolak. Dari Yanbu, kapal tanker mengangkut minyak melintasi Selat Bab al-Mandab menuju negara-negara pengimpor utama di Asia.
Dengan ancaman Houthi untuk menyerang armada kapal sipil maupun militer yang melintas, rute distribusi pasokan minyak tersebut kini berisiko lumpuh. Situasi ini mendorong Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, berkoordinasi dengan Presiden AS Donald Trump untuk meminta bantuan militer.
Namun, pemerintah AS dihadapkan pada dilema. AS terikat kesepakatan gencatan senjata dengan Houthi sejak Mei 2025. Langkah militer AS berisiko memicu kembali serangan Houthi terhadap kapal-kapal Amerika dan dapat memancing konfrontasi langsung dengan Iran.
Perpecahan Koalisi Anti-Houthi Buka Celah Ekspansi
Keberhasilan ofensif Houthi di pesisir barat tidak terlepas dari perpecahan di kubu lawan. Koalisi anti-Houthi terfragmentasi akibat bentrokan kepentingan antara Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) yang didukung Arab Saudi dan Dewan Transisi Selatan (STC) yang disokong Uni Emirat Arab (UEA).
Perselisihan antara Riyadh dan Abu Dhabi memuncak setelah insiden militer di Provinsi Hadramaut yang memicu penarikan pasukan STC dari wilayah utara. Keretakan internal ini dimanfaatkan Houthi untuk merebut posisi kunci di pesisir barat, serta memperluas potensi serangan menuju Aden dan wilayah selatan lainnya.
Eskalasi di Selat Bab al-Mandab tidak lagi sekadar menjadi perang saudara lokal di Yaman. Situasi ini menjadi ancaman nyata bagi kebebasan navigasi internasional, stabilitas harga energi global, dan rantai pasok ekonomi dunia.
Sejarah Konflik Yaman
Krisis berkepanjangan di Yaman berakar dari dinamika sejarah reunifikasi negara tersebut. Sebelum 1990, Yaman terbagi menjadi Yaman Utara yang nasionalis Arab dan Yaman Selatan yang sosialis. Kedua wilayah bersatu membentuk Republik Yaman pada 22 Mei 1990 di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh.
Namun, perselisihan politik dan kesukuan memicu perang saudara pada 1994. Meskipun pemerintah pusat berhasil mempertahankan reunifikasi, ketimpangan politik dan ekonomi terus memicu ketegangan antarkelompok. Konflik memasuki babak baru pada September 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan menggulingkan pemerintahan resmi, memicu intervensi militer internasional yang dipimpin Arab Saudi pada 2015.
Ikuti DailyFX.ID
