DailyFX.ID — Presiden China Xi Jinping mengakhiri kunjungan formalnya ke Washington setelah 11 tahun. Kunjungan kenegaraan tiga hari bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini lebih banyak diisi dengan kemegahan seremonial dan kehangatan diplomatik, namun dinilai minim menghasilkan kesepakatan konkret terkait isu-isu global utama.
Dalam kunjungan tersebut, Trump memberikan sambutan karpet merah di bandara, jamuan makan malam kenegaraan, tradisi minum teh bersama ibu negara, hingga kunjungan ke National Archives. Di sela-sela agenda seremonial itu, kedua negara hanya menyepakati perpanjangan jangka pendek pakta perdagangan dan janji pengiriman sepasang panda ke Atlanta.
Tidak ada komitmen pembelian komoditas berskala besar, kesepakatan penanganan risiko kecerdasan buatan (AI), maupun langkah bersama untuk meredakan konflik internasional seperti perang di Iran. Sejumlah analis menilai minimnya substansi dalam kunjungan ini memang sengaja dirancang oleh Gedung Putih menjelang pemilu sela.
“Menjelang pemilu sela, kepentingan Presiden Trump adalah menjaga situasi tetap tenang. Tingkat suku bunga sedang berada di rekor tertinggi, dan ia tidak ingin membuat pasar keuangan semakin gejolak,” ujar Scott Kennedy, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Gencatan Senjata Perdagangan Berlanjut Singkat
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa AS dan China sepakat memperpanjang gencatan senjata perdagangan selama dua bulan hingga 10 Januari. Kesepakatan awal yang digagas dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, tersebut berhasil menurunkan tarif impor AS dan menangguhkan kontrol ekspor mineral kritis serta tanah jarang (rare earths) oleh Beijing.
Analis menilai perpanjangan singkat ini memberi keunggulan penawaran bagi AS untuk memanfaatkan ancaman tarif dalam negosiasi mendatang. Kedua pemimpin dijadwalkan bertemu kembali dua kali tahun ini, yakni pada Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Shenzhen pada November dan KTT G20 di Miami pada Desember.
Upaya Menghindari ‘Jebakan Thucydides’
Dari sisi retorika, Beijing menunjukkan rasa percaya diri yang meningkat. “Jebakan Thucydides (Thucydides Trap) dapat diatasi,” tegas Xi Jinping saat tiba di Gedung Putih. Istilah ini merujuk pada teori sejarah di mana ketegangan antara kekuatan utama dunia dan kekuatan yang sedang bangkit kerap berujung pada perang.
Xi menekankan bahwa kedua negara dapat menjalin kompetisi yang sehat tanpa konfrontasi militer. Sementara itu, pihak AS tidak mengeluarkan pernyataan publik terkait isu sensitif Taiwan maupun perang Iran selama pertemuan berlangsung, meski delegasi China mengonfirmasi isu Timur Tengah menjadi salah satu fokus pembahasan puncak.
Tidak Ada Kesepakatan Konkret Soal AI
Meski para pemimpin industri teknologi dan anggota parlemen AS menyuarakan kekhawatiran atas risiko AI, kedua negara belum mengambil langkah konkret untuk membatasi pengembangannya. Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump menyatakan ingin membiarkan perkembangan AI tetap pada kondisinya saat ini.
Di sisi lain, Xi Jinping menekankan pentingnya kerja sama bilateral agar pengembangan AI tetap berada di bawah kendali manusia dan membawa manfaat bagi masyarakat umum. Namun, pembicaraan ini belum menghasilkan regulasi bersama yang mengikat.
Penyambutan Seremonial yang Luar Biasa
Trump memberikan penghormatan seremonial tingkat tinggi yang jarang diberikan kepada pemimpin asing. Ia menyambut Xi langsung di tangga pesawat di Joint Base Andrews, momen pertama kalinya Trump melakukan penyambutan langsung di pangkalan udara tersebut. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penghormatan militer di Rose Garden, atraksi musik Herald Trumpets, parade Fife and Drum Corps, hingga atraksi pesawat tempur di udara.
Drama Liputan Media Nasional
Kunjungan megah ini sempat tidak ditayangkan oleh beberapa jaringan televisi utama AS. Hal ini terjadi akibat perselisihan antara Gedung Putih dan konsorsium media menyusul pembatasan akses terhadap tiga lembaga pemberitaan yakni MS NOW, CNN, dan Politico. Meski pengadilan federal sempat memerintahkan pemulihan akses pers, dinamika tersebut membuat penayangan momen kedatangan Xi terhambat di media domestik AS, yang kemudian memicu keluhan Trump di media sosial.
Kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Washington menjadi momen penting setelah hubungan kedua negara mencapai titik terendah dalam beberapa dekade terakhir. Sejak perang tarif yang dimulai pada periode pertama kepemimpinan Donald Trump, hubungan AS dan China terus diwarnai persaingan ketat di bidang ekonomi, penguasaan teknologi tingkat tinggi, persengketaan wilayah Laut China Selatan, serta ketegangan geopolitik terkait status Taiwan.
Pertemuan puncak di Washington ini dirancang sebagai upaya stabilisasi bilateral (floor-setting) agar persaingan ekonomi dan teknologi antara dua raksasa dunia tidak meruncing menjadi konflik terbuka, sekaligus menjaga kepastian pasar global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Ikuti DailyFX.ID
