DailyFX.ID — JAKARTA – Presiden China Xi Jinping menyatakan keyakinan bahwa negaranya dan Amerika Serikat mampu mengatasi ketegangan persaingan strategis tanpa harus berkonfrontasi. Pendekatan ini diusung China melalui gagasan persaingan antarnegara yang damai, di mana kompetisi tidak harus berujung pada konfrontasi.
Saat tiba di Gedung Putih untuk bertemu Presiden AS Donald Trump pada Kamis (24/9/2026), Xi Jinping secara terbuka menyampaikan pandangannya. “Jebakan Thucydides dapat diatasi,” ujar Xi, seperti tertulis dalam laporan resmi pihak China pada Sabtu (26/9/2026). Pernyataan ini menandai pergeseran retorika, di mana pada KTT Mei 2026, Xi masih mempertanyakan kemungkinan kedua negara menghindari jebakan tersebut. Kini, narasi bergeser menjadi keyakinan bahwa perselisihan dapat diatasi.
Mengenal ‘Jebakan Thucydides’
Istilah ‘Jebakan Thucydides’ dipopulerkan oleh Profesor Universitas Harvard Graham Allison pada awal 2010-an. Konsep ini merujuk pada pola sejarah di mana ketegangan antara kekuatan baru yang sedang bangkit dan kekuatan utama yang sedang memimpin kerap berakhir dengan perang terbuka. Nama ini diambil dari Thucydides, jenderal Yunani Kuno, yang mencatat Perang Peloponnesos. Ia menjelaskan bagaimana kebangkitan pesat Athena memicu kepanikan di Sparta, membuat perang tidak terhindarkan.
Konsep ini telah lama menarik perhatian Xi Jinping. Dalam wawancara dengan HuffPost pada 2014, Xi menekankan pentingnya kerja sama global untuk menghindari ketegangan antar kekuatan dunia. Allison sendiri telah beberapa kali bertemu Xi dan bertandang ke China, termasuk pada Juni 2026 untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF).
Batas Aman Baru: Berkompetisi Tanpa Perang
Sinyal optimisme Xi Jinping tercermin dari dorongannya terhadap prinsip hidup berdampingan secara damai. Ia menegaskan, AS dan China sanggup menjalin persaingan yang sehat. “Ini harus menjadi perlombaan untuk saling mengejar, bukan pergulatan hidup-mati di mana satu pihak menang dan pihak lain kalah,” tegas Xi. Ia menambahkan bahwa militer kedua negara perlu meningkatkan komunikasi krisis dan pencegahan konflik.
Penetapan batas aman, yakni bersaing secara ketat tanpa memicu konflik militer, dinilai sebagai pencapaian terpenting dari KTT tersebut. “Ini memberikan kepastian di tengah hubungan bilateral yang serba dinamis dan rentan gejolak,” ujar Cui Shoujun, profesor di Sekolah Studi Internasional Universitas Renmin China.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dalam sambutannya lebih menyoroti kolaborasi secara umum. Pihak AS belum memberikan pernyataan resmi terkait isu Taiwan, meskipun laporan resmi China mencatat Xi Jinping telah meminta AS untuk menolak kemerdekaan Taiwan.
Istilah ‘Thucydides Trap’ menjadi pilar utama dalam analisis geopolitik modern sejak hubungan AS dan China memasuki era persaingan strategis terbuka. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar pertama dan kedua di dunia, pergeseran keseimbangan kekuasaan antara AS dan China memicu kekhawatiran global akan hadirnya Perang Dingin baru.
Sepanjang sejarah, menurut studi Harvard Belfer Center yang dipimpin Graham Allison, dari 16 kasus dalam 500 tahun terakhir di mana kekuatan baru menantang kekuatan lama, 12 di antaranya berujung pada perang mendasar. Kasus-kasus tersebut meliputi persaingan Jerman dan Inggris pada awal abad ke-20 hingga perang antar-kerajaan di masa lalu.
Dalam konteks AS-China, gesekan tidak hanya terjadi di sektor perdagangan dan manufaktur, melainkan telah meluas ke dominasi teknologi masa depan (seperti AI dan semikonduktor), pengaruh militer di kawasan Indo Pasifik, serta status kedaulatan Taiwan. Oleh karena itu, komitmen kedua pemimpin negara untuk menggeser narasi dari “konflik yang tak terhindarkan” menjadi “kompetisi yang terkelola” menjadi landasan penting demi mencegah benturan militer secara tidak sengaja.
Ikuti DailyFX.ID
